Mengenal Antibiotik


Pastinya kita semua tidak asing mendengar kata ini, ya Antibiotik. Kalau kita ke dokter sakitnya apapun pasti dokter nyaranin untuk dikasih antibiotik. Apasih sebenarnya antibiotik itu, bagaimana cara kerjanaya dan apa kelemahanya? Mari kita belajar bersama tentang antibiotik ūüôā

           Antibiotika adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang mempunyai efek menekan atau menghentikan suatu proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi oleh bakteri. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan pengobatan penyakit infeksi, meskipun dalam bioteknologi dan rekayasa genetika juga digunakan sebagai alat seleksi terhadap mutan atau transforman. Antibiotika bekerja seperti pestisida dengan menekan atau memutus satu mata rantai metabolisme, hanya saja targetnya adalah bakteri. Antibiotika berbeda dengan desinfektan karena cara kerjanya. Desifektan membunuh kuman dengan menciptakan lingkungan yang tidak wajar bagi kuman untuk hidup.

Bahan antibiotik pertama ditemukan Alexander Fleming pada 1928. Kemudian, pada 1940-an antibiotik mulai digunakan secara luas. Waktu itu, ahli scientist dunia memprediksi, dengan ditemukannya antibiotik, pada 1960-an dunia diprediksi bersih dari penyakit infeksi.
Pada 1990, kata Kuntaman, di beberapa belahan dunia pernah terjadi post antibiotika era. Suatu keadaan yang antibiotik tidak berfungsi lagi. ‚ÄúWaktu itu, di antara 20 jenis antibiotik yang ada, hanya satu yang bisa mengobati penyakit infeksi,‚ÄĚjelasnya.
Pada 2001, World Health Organization (WHO) menyampaikan keprihatinan yang tinggi terhadap perkembangan bakteri resisten. WHO pun menyatakan global alert atau perang melawan bakteri resisten.
Kuntaman juga mengungkapkan, penelitian di dua rumah sakit besar di Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2001 menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik secara tidak bijak mencapai 80 persen. Kasus di RSU dr Soetomo, lanjut Kuntaman, angka resisten terhadap antibiotik lini pertama (penyakit infeksi ringan) bisa mencapai 90 persen dan lini kedua (infeksi sedang) mendekati 50 persen. Dalam disertasinya yang dirilis beberapa waktu lalu, Kuntaman juga menyebutkan, angka bakteri penghasil extended spectrum beta lactamase (ESBL, jenis bakteri yang sulit diobati) mencapai 29 hingga 36 persen. ‚ÄúBandingkan dengan Belanda yang angkanya kurang dari satu persen,‚ÄĚ sebut pria yang bekerja di laboratorium mikrobiologi RSU dr Soetomo itu.

Tidak seperti perawatan infeksi sebelumnya, yang menggunakan racun seperti strychine, antibiotika dijuluki “peluru ajaib”: obatyang membidik penyakit tanpa melukai tuannya. Antibiotik tidak efektif menangani infeksi akibat virus, jamur, atau nonbakteri lainnya, dan Setiap antibiotik sangat beragam keefektifannya dalam melawan berbagai jenis bakteri. Ada antibiotika yang membidik bakteri gram negatif¬†¬†atau gram positif, ada pula yang spektrumnya lebih luas. Keefektifannya juga bergantung pada lokasi infeksi dan kemampuan antibiotik mencapai lokasi tersebut.¬†Antibiotika oral (yang dimakan) mudah digunakan bila efektif, dan antibiotika intravena (melalui infus) digunakan untuk kasus yang lebih serius. Antibiotika kadangkala dapat digunakan setempat, seperti tetes mata dan salep.

Singkatnya ni bisa dikata, Antibiotik adalah substansi atau zat yang bisa membunuh/melemahkan mikroorganisme/jasad renik (bakteri/parasit).

Peran antibiotik yang ampuh membunuh kuman tak selalu bermanfaat bagi manusia. Karena nyatanya, mengonsumsi antibiotik juga dapat mengganggu keseimbangan mikroba baik yang hidup di dalam usus sehingga menyebabkan kondisi kesehatan menjadi tak terduga.  Berdasarkan penelitian Les Dethlefsen dan David Relman dari Universitas Stanford California, AS, terhadap pasien yang diberi ciprofloxacin terungkap bahwa antibiotik yang dikonsumsi menekan semua populasi bakteri menguntungkan. Setidaknya setiap pasien memerlukan waktu berbulan-bulan untuk pulih.

“Terlalu sering menggunakan antibiotik bisa¬†memicu peningkatan drastis dari diabetes tipe¬†1, obesitas, penyakit radang usus, alergi dan¬†asma yang meningkat 2 kali lipat di dalam¬†populasi,” ujar Martin Blaser, profesor¬†mikrobiologi dan ketua departemen¬†kedokteran New York University Langone¬†Medical Center.

Manusia kadang disebut dengan meta- organism karena jumlah dan volume mikroba yang banyak di berbagai bagian tubuh, seperti yang hidup di dalam usus, kulit atau bahkan pusar. Mikroba ini membantu akses nutrisi, mencegah infeksi berbahaya serta gangguan autoimun lainnya. Tapi penggunaan antibiotik yang berlebihan atau tidak tepat, justru bisa mengurangi jumlah bakteri baik dan membuat mikroba resisten. Hal ini karena antibiotik bersama dengan perubahan cara hidup bisa mengubah komunitas mikroba yang hidup di berbagai tubuh.

Penelitian yang diterbitkan jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini mendukung kebijaksanaan yang mengatakan bahwa antibiotik dapat merusak bakteri baik yang hidup di tubuh. Penelitian ini juga mendukung pentingnya pengembangan produk probiotik, termasuk yoghurt yang mengandung bakteri hidup.

Dalam riset selama sekitar 10 bulan, para ahli melibatkan tiga perempuan relawan dengan memberikan tablet antibiotik. Pemberian obat dilakukan dalam dua fase dengan setiap fase berlangsung selama lima hari. Kemudian, para peneliti melakukan tes DNA pada sampel tinja dari para relawan untuk menentukan jenis mikroba yang hidup dalam usus.¬†‚ÄúHasilnya, efek ciprofloxacin pada mikrobiota usus sungguh pesat. Selama sepekan setelah pemberian antibiotik, mereka kembali pada kondisi awal, tapi tidak sepenuhnya lengkap,‚ÄĚ kata Dethlefsen.

Hasil studi lain juga mendukung gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan simbiosis dengan kuman. Mikroba dalam usus membantu mencerna makanan dan kuman baik dapat membuat jarak sehingga kuman buruk menjauh. ‚ÄúDistal usus manusia adalah salah satu ekosistem paling kompleks di planet ini,‚ÄĚ ungkap Dethlefsen.

Mematikan mikroba dapat memicu obesitas dan kemungkinan alergi. Riset lain juga menemukan bahwa Lactobacillus reuteri yang ditemukan dalam ASI dapat melindungi tubuh dari infeksi rotavirus. Beberapa studi terbaru juga menemukan bakteri tertentu menyebabkan radang yang dapat memengaruhi nafsu makan serta kondisi peradangan usus, seperti penyakit Crohn dan kolitis.

Menurut Dethlefsen, membunuh populasi bakteri dalam tubuh secara teratur dapat membantu mendorong penyebaran bakteri super yang resisten terhadap obat-obatan.¬†‚ÄúSalah satu potensi percabangan yang dapat mengubah manusia adalah menambah gen yang kebal terhadap antibiotik. Setiap penggunaan antibiotik sama halnya seperti melempar dadu karena berpotensi memunculkan strain jahat yang mengganti bakteri baik,‚ÄĚ tandasnya.

Semakin sering mengkonsumsi antibiotik sangat dimungkinkan semakin sering jatuh sakit. Mengkonsumsi antibiotik secara tidak bijak memposisikan kita kondisi yang berbahaya yaitu meningkatkan resiko terjadinya resistensi antibiotik pada kemudian hari.

Infeksi bakteri yang resisten antibiotik dapat menyebabkan :

  • Lebih sulit disembuhkan
  • Sakit lebih lama
  • Butuh antibiotik lebih kuat (lebih toksik)
  • Butuh biaya pengobatan lebih mahal

Jangan sembarangan memberikan obat-obatan pembunuh kuman atau antibiotik pada bayi Anda. Terutama, yang usianya belum genap enam bulan. Penelitian di Amerika Serikat menemukan, bayi yang mendapat antibiotik, 70 persen lebih mungkin menderita asma di masa kanak-kanak. Penelitian juga mengungkapkan, bayi akan mengalami peningkatan risiko terkena asma sampai 40 persen pada pemberian pertama antibiotik di bulan-bulan pertama kehidupannya. Risiko meningkat 70 persen jika mereka diberi obat kedua untuk mengobati infeksi.

Temuan para ilmuwan Universitas Yale yang terbaru ini adalah serangkaian studi untuk menghubungkan obat-obatan yang digunakan saat bayi dengan asma pada anak. Para ahli ingin mengetahui apakah obat benar-benar menjadi salah satu penyebab asma, dikutip dari laman Daily Mail.

Awalnya, terjadi perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebagian menyalahkan pemberian antibiotik pada bulan-bulan awal kehidupan anak. Namun yang lainnya mengatakan asma tidak ada kaitan dengan antibiotik. Riwayat penyakit keluarga lebih mungkin menjadi penyebab asma. Tetapi, dalam investigasi terbaru, para ilmuwan menyimpulkan bahwa memang ada hubungan kuat antara penggunaan antibiotik dan asma. Bahkan setelah menghubungkan faktor-faktor lain seperti riwayat keluarga.

Dalam penelitian, tim ilmuwan Yale mempelajari 1.400 anak untuk mengetahui apakah mereka menggunakan antiobiotik sejak dini sehingga menyebabkan tingkat kasus asma lebih tinggi di masa kanak-kanak. Anak yang diteliti adalah mereka yang mendapat obat antibiotik sebelum genap usia enam bulan. Anak-anak yang dilibatkan juga termasuk mereka yang dilahirkan dari orangtua yang tidak mempunyai riwayat penyakit asma.

Dalam laporan temuan mereka, para peneliti Yale menyalahkan obat penggunaan antibiotik sejak dini. Antibiotik ikut merusak keseimbangan mikroba sebagai pelindung usus bayi yang membantu menangkal penyakit pada tahap awal kehidupannya. Menurut laporan itu, paparan awal mikroba, terutama di saluran usus, tampaknya diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh yang matang dan seimbang dalam masa kanak-kanak. Menggunakan antibiotik, khususnya antibiotik spektrum luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus, sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan rentan alami alergi.

Pemimpin penelitian Dr Kari Risnes mengungkapkan, “Temuan dari studi, kami harus mendorong dokter untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, terutama pada anak-anak yang menderita sakit ringan.‚Ä̬†Penelitian itu juga mengungkapkan, di masa kecil, anak laki-laki lebih mungkin terkena asma dibandingkan anak wanita. Pada wanita lebih cenderung untuk mengembangkan asma pada umur belasan tahun.

Jadi gimana kawan sudah tau kan apa ntu Antibiotik, berikut akan saya paparkan beberapa golongan antibiotik

  • aminoglukosidum
  • kloramfenicol
  • kuinolon
  • makrolidum
  • penisilium
  • sefalosporinum
  • tetrasiklinum

Semoga bermanfaat bagi teman- teman, dan selalu ingat bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan sesuatu pasti mempunyai manfaat.

sumber : http://hutantropis.com/bahaya-antibiotik-bagi-tubuh-anda

http://kosmo.vivanews.com/news/read/199337-bahaya-antibiotik-pada-bayi

berbagai sumber campuran lainya

Advertisements