Mengenal Abu Dzar Al-Ghifari


  • Abu Dzar berasal dari suku Ghifar (dikenal sebagai penyamun pada masa sebelum datangnya Islam). Ia memeluk Islam dengan sukarela, ia salah satu sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam. Ia mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan keislamannya.
    Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar. Ia mengikuti hampir seluruh pertempuran-pertempuran selama Nabi Muhammad hidup.
    Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah. Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran Bizantium. Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul bawaannya. Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat menyayat.
    Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi SAW. Namun Rasulullah heran kantong airnya masih penuh. Setelah ditanya mengapa dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa semena-mena ini mengatakan, “Di perjalanan saya temukan mata air.
    Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum Nabi SAW meminumnya.” Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, “Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu.” Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.
    Sebelum Masuk Islam
    Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria. Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya.
    Abizar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian. Itu sebabnya, Abizar yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.
    Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya. Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab meninggalkan tanah kelahirannya.
    Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar, Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abizar tak lama tinggal. Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang mendapat tentangan dari masyarakat setempat.
    Masuk Islam
    Mendengar datangnya agama Islam, Abizar pun berpikir tentang agama baru ini. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini telah mulai mengguncangkan kota Mekkah dan membangkitkan gelombang kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Abizar yang telah lama merindukan kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan Nabi SAW. Ia pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka’bah. Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran Nabi. Waktu itu masyarakat kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan.
    Demikian halnya dengan Ka’bah yang masih dipenuhi berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy, sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana untuk salat.
    Seperti yang diharapkan sejak lama, Abizar berkesempatan bertemu dengan Nabi. Dan pada saat itulah ia memeluk agama Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan berani.
    Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai menentang pemujaan berhala. Dia berkata: “Saya sudah terbiasa bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi Besar Islam.” Sejak saat itu, Abizar membaktikan dirinya kepada agama Islam.
    Menjadi Sahabat Nabi
    Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.
    Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam “Perang pakaian compang-camping”, dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu. Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar. Sambil memeluknya, Rasulullah berkata: “Abizar akan tetap sama sepanjang hidupnya.” Ucapan Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh. Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam gelimangan harta.
    Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai “Ayat Kanz” (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat Attaubah, menimbulkan pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.
    “Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu, kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan hasil yang telah engkau himpun.”
    Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah Muawiyah, saat itu.
    Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang miskin.
    Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip peristiwa masa Nabi: “Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.
    Nabi berkata kepada Abizar, ‘Jika aku mempunyai emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan aku bagi-bagikan kepada hamba Allah’.”n her
    Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa
    Semasa hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar. Sudah menjadi kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kafilah yang lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa. Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
    Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria. Namun di tempat baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar sebagai ‘duri dalam daging’ bagi penguasa setempat.
    Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi SAW yang tinggal di serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, “Kalau Anda membangun istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda melakukan ‘israf’ (pemborosan).” Muawiyah hanya terpesona dan tidak menjawab peringatan itu.
    Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya.
    Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.
    Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika sahabat Ali Ra, pernah berkata: “Saat ini, tidak ada satu orang pun di dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang terkecuali.”
  • Advertisements

    Maafkan Aku Bidadariku


    Aku hanya ingin mengerti dan memahamimu
    Tidaklah seperti biasa sikapmu
    Dirimu memang penuh rahasia, dirimu memang penuh kejutan
    Mencoba mengerti dan mempelajari dirimu yang unik
    Terkadang biasa namun terkadang awkward
    Namun sekarang sikapmu benar- benar awkward
    Awalnya aku tidak tahu kenapa
    Dugaanku masih seperti dulu kalau engkau masih badmood atau ada masalah

    Waktu terus berjalan namun ternyata semakin ku belum mengerti
    Setelah aku timbang- timbang dan aku cari- cari
    apa, mengapa, bagaimana…
    Aku menemukan bahwa semua kembali pada diriku sendiri
    Maafkan aku oh Tuhan
    Mungkin karena ini dirinya bersikap seperti itu

    Diriku memang bukan yang dulu
    Aku juga tidak tahu mengapa ku jadi seperti ini
    Ada kelabilan dalam hati ini, dalam sikap ini, dalam kepribadian ini
    Kegelapan sedang menyelimuti dan teman kecilku sepertinya menghilang
    Teman yang dulu selalu mengingatkanku, dan membimbingku
    Mencoba bangkit dari kegelapan ini
    Ku juga tidak tahan seperti ini
    Tiada sama hati dan pikiran ini
    Maafkan aku bidadariku….

    Bantulah diriku untuk tetap istiqomah di jalanmu Tuhan
    Bantulah diriku untuk bisa bangkit dari kegelapan ini Tuhan
    Ampunilah diriku yang hina ini
    Ridhoi diri ini seperti pribadi sebelum ini

    KISAH PENCARI MLINJO


    Anton adalah anak tunggal dari pasangan Hartini dan Suprapto. Sejak umur dua setengah tahun ayahandanya meninggal dunia dan kemudian diasuh oleh nenek dan kakeknya di Bantul Yogyakarta. Ibunya pun kemudian pergi meninggalkanya untuk bekerja di sebuah pabrik tekstil di Jakarta. Semenjak ditinggal ayahnya dia belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu bahkan sampai dia dewasa. Ibunya terkadang hanya di rumah selama dua minggu paling lama dan kemudian pergi lagi.
    Anton dititipkan TK oleh neneknya selama dua tahun, kemudian dia masuk ke sekolah dasar dengan umur tujuh tahun lebih. Mulai kelas satu Anton selalu berangkat ke sekolah sendiri dengan jalan kaki tanpa harus diantar apalagi dijemput oleh neneknya. Terkadang saat beruntung dia mendapatkan tumpangan dan berangkat bersama dengan temanya yang di antar dengan menggunakan kendaraan bermotor. Tidak seperti anak sekarang yang bila tidak dikasih uang saku tidak mau berangkat sekolah, Anton dikasih maupun tidak dikasih uang saku oleh nenek dan kakeknya tetap berangkat bersekolah. Sejak kecil memang dia dididik untuk prihatin dan tidak suka jajan.
    Mulai kelas tiga karena sudah dianggap besar oleh neneknya, Anton disuruh untuk mulai bisa mencuci pakaianya sendiri, melipat dan menata sesuai kepentingan, untuk baju seragam harus disendirikan, baju main disendirikan dan begitu juga baju khusus untuk bepergian harus disendirikan. Anton sangat senang melakukan semua itu tanpa ada rasa tertekan sedikitpun dalam hati kecilnya. Sejak saat itu juga Anton mulai mandi sendiri meskipun masih dikejar- kejar untuk disuruh mandi, namanya juga masih anak- anak.
    Adanya pergantian sistem pendidikan dari catur wulan menjadi sistem semester, yang pada waktu itu Anton masih setengah tahun duduk di kelas tiga, berakibat pada naiknya biaya spp yang awalnya hanya seribu rupiah naik menjadi dua ribu rupiah per bulan. Hal itu tentunya menambah beban biaya yang harus dikeluarkan oleh kakeknya. Biaya spp Anton sempat menunggak selama tiga bulan dan dia pun mendapat teguran dari wali kelasnya untuk segera membayar, namun dia tidak berani bilang pada kakeknya waktu itu. Suatu hari dia meminta uang untuk membayar spp sebesar enam ribu rubiah kepada kakeknya, karena tidak mempunyai uang cukup dia hanya mendapatkan empat ribu rupiah. Dari hal tersebut, entah dari mana pikiran itu muncul, terlintas muncul pikiran bagaimana caranya dapat mendapatkan uang. Sepulang dari sekolah saat berjalan kaki di suatu pedesaan dia melihat ada orang yang mencari biji mlinjo yang jatuh di pekarangan, dia langsung teringat bahwa neneknya dirumah juga mengumpulkanya untuk kemudian dijual saat sudah terkumpul banyak. Sejak hari itu sepulang sekolah main sampai dzuhur dan setelah dzuhur dia mencari biji mlinjo dari satu desa ke desa lain kuarang lebih ada tiga desa.
    Dari hasil mencari biji mlinjo dia bisa membantu membayar uang sekolah, untuk saku dan sisanya ditabung. Saat itu harga jual mlinjo selalu mengalami peningkatan, mulai dari sepuluh ribu perkilo sampai yang paling mahal adalah empat belas ribu lima ratus rupiah perkilo. Anton pun semakin rajin untuk mencari biji mlinjo tiap harinya apalagi setelah tahu harganya tinggi. Uang sepuluh ribu rupiah saat itu ibarat uang seratus ribu rupiah saat ini, bisa dibayangkan sendiri betapa bahagianya dia saat itu.
    Pada awalnya dia hanya sendiri untuk mencari biji mlinjo kemudian dia mengajak salah satu temanya untuk ikut mencari dengan bujukan lumayan uangnya bisa buat jajan. Semua dijalaninya dengan senang karena selain dapat mencari biji mlinjo dia juga dapat bermain dan dapat mengetahui rumah teman- teman sekolahnya. Di pertengahan jalan terkadang dia mampir di sungai dan kemudian mandi disitu, asyik rasanya mandi di sungai saat itu apalagi bareng- bareng. Setiap hari biasanya dia pulang habis berkeliling mencari biji mlinjo sekitar habis ashar, dan kemudian pergi lagi untuk bermain sampai azan magrib tiba.
    Teman- teman Andi sangat banyak dan semua baik serta pengertian pada dirinya. Tidak pernah dia merasa diperlakukan beda dengan teman lain yang lebih mampu atau kaya, begitu juga orang tua dari teman- temanya sangat baik padanya. Dia mempunyai satu teman kecil yang tidak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun. Sejak perkenalan dengan temanya yang bernama Zenny, setiap hari dia selalu main bersama dan lebih banyak main ke rumah temanya itu yang notabenya memang orang kaya di desanya saat itu. Makan dan tidur bareng sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi mereka berdua. Terkadang saat ayah Zenny butuh sesuatu anton selalu disuruh untuk membelikanya dan pasti dikasih uang. Zenny sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri, dia sangat baik anaknya dan memang tidak suka macem- macem seperti anak sekarang yang ingin ini itu yang mahal- mahal.
    Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun tidak terasa dia sekarang sudah mau naik ke kelas empat, badanya tentunya sudah bertambah tinggi membuat seragamnya sudah tidak cukup lagi. Pada waktu itu dia mempunyai tabungan sebesar enam puluh ribu rupiah, dia mengajak neneknya ke pasar untuk membelikanya satu stel seragam pramuka dan satu celana merah putih, alhamdulillah uangnya cukup, masih sisa lima belas ribu rupiah untuk dibelikan ayam agar bisa dipelihara, telurnya bisa dimakan dan suatu saat bisa dijual lagi ayam itu. Anton sangat senang saat itu karena dapat membeli seragam sekolah dengan uangnya sendiri tanpa harus meminta kepada neneknya.
    Setelah uang tabungan pertamanya habis dia semakin gigih untuk bisa menabung lagi, dia ingin membeli sepeda untuk memudahkanya pergi ke sekolah. Beberapa minggu kemudian setelah membeli seragam itu, saudara neneknya dari Riau datang dan dia mendapat uang sebesar dua ratus ribu rupiah. Uang itu kemudian langsung ia tabungkan di bank terdekat, dan itu merupakan pengalaman pertama kalinya dia ke bank. Selang beberapa bulan kemudian uangnya sudah mencapai tiga ratus lima ribu rupiah, dia kemudian mengambil sebanyak tiga ratus ribu rupiah kemudian mengajak pamanya untuk membeli sepeda di kota. Saat itu ada sepeda seken dengan harga dua ratus ribu rupiah namun kondisinya masih sangat bagus. Anton sekarang sudah memiliki sepeda dan tidak perlu berjalan kaki lagi ke sekolah. Dia mempunyai keinginan setelah ini dia bisa membeli kambing, setelah kambing terkumpul banyak kemudian dia belikan sapi, begitu impianya saat itu.
    Saat itu prestasinya mulai tampak, Anton yang biasanya hanya mendapat ranking berkisar antara angka sepuluh sampai dua belas naik turun pasti cuma di angka itu, sekarang di akhir semesternya dia mendapatkan ranking enam dari total dua puluh delapan anak. Dia memang terlihat rajin mulai awal masuk di kelas empat karena saat itu wali kelasnya adalah guru dambaanya, beliau sangat baik, cara mengajarnya enak dan penampilanya menarik, namanya adalah bapak Kaisar yang mengampu mata pelajaran IPS dan PPKn. Sangat berbeda dengan waktu masih kelas tiga, dia selalu tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya dan selalau mendapatkan catatan untuk dimintakan tanda tangan orang tua, namun tidak pernah dia melakukanya. Di kelas tiga dia sedang bandel- bandelnya, berantem dengan teman sudah biasa baginya saat itu.
    Anton sekarang sudah bisa membagi waktunya untuk bermain, membantu orang tua, mencari mlinjo, dan belajar. Semenjak saat itu juga dia meminta neneknya untuk memasukanya ke bimbingan belajar bersama teman- teman yang lainya. Biaya les waktu itu adalah lima belas ribu per tiga bulan. Selain les tersebut dia juga membentuk kelompok belajar dengan teman- temanya, jadi setelah pulang sekolah mulai pukul setengah dua mereka selalu bejar bersama, sehabis itu baru kemudian berkeliling mencari biji mlinjo atau terkadang main dulu.
    Tidak ada rasa malu bagi Anton, apapun dijalaninya agar bisa membantu nenek dan kakeknya. Mulai dari mencari biji mlinjo, mencari tinggalan kacang tanah di sawah, mencari cabai yang jatuh, menambang pasir dan membantu tetangga mengangkut kayu sudah biasa dijalaninya. Kesibukanya saat itu bertambah satu lagi saat kakeknya menggaduh kambing milik orang lain, yaitu mencari rumput di sawah. Dengan berbekalkan sabit dan sak setiap jam empat sore dia mencari rumput dengan salah satu temanya yang memang sudah biasa mencari rumput.
    Semenjak prestasinya meningkat itulah dia mulai mendapatkan beasiswa untuk pertama kalinya yaitu gratis spp. Kelas empat semester akhir sampai lulus SD alhamdulillah dia selalu mendapatkan beasiswa itu. Nenek dan kakeknya sangat senang karena uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain.
    Setelah lulus SD karena ingin melanjutkan SMP namun keadaan nenek dan kakek yang tidak sanggup membiayai akhirnya Anton ikut dengan nenek dan paman dari Ayahnya di Semarang. Karena telat pendaftaran akhirnya dia hanya bisa masuk ke sekolah swasta yang memang mahal, namun paman- pamanya selau menasihatinya jangan berkecil hati, tunjukan prestasimu bahwa kamu bisa. Di sekolah itu memang tidak ada ada program biasiswa namun dia dapat bantuan dana BOS dan mendapat bantuan uang spp dari gurunya yang peduli karena prestasinya. Alhamdulillah selama dua tahun mulai kelas dua sampai lulus SMP dia tidak perlu membayar biaya sekolahnya.
    Lulus dari SMP dengan nilai tertinggi di sekolahnya yaitu NEM 26.59 saja dia kesulitan untuk mendapatkan sekolah. Dia ingin masuk SMK Negeri yang notabenya memang sudah terkenal prestasinya di Semarang. Persainganya saat itu sangat ketat dengan NEM pesaing ada yang mencapai 30 bahkan ada yang lebih karenya prestasi yang lain. Memang aneh awalnya saat dia tahu ada yang mencapai NEM 30 lebih padahal maksimal hanya 30. Namun sekali lagi pamanya selalu memberi semangat kepadanya untuk tidak berkecil hati, dan pasti bisa lolos seleksi. Harapan Anton juga begitu, bisa lolos seleksi dan masuk SMK Negeri agar ringan biayanya.
    Tuhan sepertinya mempunyai kehendak lain yang lebih baik. Anton dinyatakan tidak lolos seleksi. Hatinya saat itu langsung hancur, musnah sudah harapanya kala itu. Dia sempat mengalami stress dan tidak mau melanjutkan sekolah lagi. Disitulah semua pamanya menasihati, menguatkan dirinya dan membujuk dirinya untuk mencoba mencari sekolah lainya. Pada saat itu Anton tidak mempunyai pandangan sekolah lain, dan memang pada waktu itu dia yakin bisa masuk SMK yang dia inginkan tersebut sehingga dia mantab tidak nyabang ke sekolah yang lain. Akhirnya salah satu pamanya menyarankan agar dia masuk ke SMA, siapa tahu besok bisa melanjutkan kuliah namun tentunya juga menyuruhnya untuk mohon kepada Tuhan, mana yang terbaik untuk dirinya antara SMK atau SMA. Pagi harinya Anton langsung diantar untuk mendaftar ke SMA swasta yang terkenal mahal di Kota Semarang, mau apa lagi tidak mungin bisa masuk SMA Negeri karena pendaftaran sudah tutup. Pamanya memilihkan SMA itu karena diangap disiplin dan memang berbeda dari sekolsh swasta yang lain.
    Hari pertama masuk sekolah, pamanya berpesan lagi untuk jangan berkecil hati, tunjukan prestasi bahwa dia mampu menjadi yang terbaik seperti waktu SMP dulu, belajar…..belajar dan jangan lupa berdoa, masalah biaya jangan dipikirkan. Nasihat itu dia camkan benar- benar dalam hatinya dan setiap langkahnya menuju sekolah. Masa- masa orientasi dan tambahan matrikulasi karena memilih kelas RSBI telah dilaluinya. Bertemu dan mendapat kenalan baru membuatnya bisa melupakan sedikit rasa sedihnya yang tidak diterima di SMK.
    Waktupun berlalu dengan cepatnya, tidak terasa sudah menerima rapor semester pertama, hatinya berdebar dan takut kalau sampai mengecewakan semuanya. Alhamdulillah dia mendapatkan ranking pertama dikelasnya, dan ranking pertama kelas paralel. Waktu itu dia tidak tahu kalau disitu ada program beasiswa. Dia baru tahu setelah orang tuanya mendapatkan undangan untuk hadir dalam acara upacara bendera dan penyerahan beasiswa. Anton mendapatkan beasiswa seratus persen yang artinya bebas biaya spp selama satu semester. Dari situ dia berusaha untuk belajar lebih giat lagi dan meningkatkan prestasi agar bisa meringankan biaya sekolahnya. Dia tidak bisa mencari biji mlinjo lagi karena memang daerahnya sudah beda, kota dengan desa, salah satu cara hanya dengan belajar lebih giat, pikirnya saat itu.
    Pada waktu Anton sekolah di SMA itu ada tetangganya yang bilang apakah mampu paman- pamannya membiayai dia di sekolah yang terkenal mahal itu. Pamanya menasihati untuk tidak mempedulikan omongan orang, buktikan saja kepadanya bahwa dirinya bisa. Sekarang Anton membuktikan, berkat kerja keras untuk belajar lebih giat dan berdoa dia mampu mendapatkan beasiswa selama tiga tahun di SMA- nya.
    Setelah lulus SMA awalnya Anton ingin melanjutkan pendidikan di AKMIL, namun sekali lagi takdir berkata lain dia tidak lolos seleksi. Belajar dari kegagalan sebelumnya sekarang Anton lebih tegar dan mampu menerimanya dengan lapang dada. Paman Anton mencoba menawarkan untuk mencoba mendaftar kuliah, siapa tahu jalanya memang bukan di AKMIL tapi kuliah. Anton menimbang- nimbang saran pamanya dan meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa kalau memang jalan terbaiknya di kuliah semoga bisa diterima tetapi kalau jalan terbaiknya di AKMIL semoga tahun depanya dia bisa masuk. Anton mencoba mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan dia dapat diterima. Dia mengambil jurusan yang memang belum banyak diketahui orang, namun prospek kedepanya sangat bagus. Anton sangat bersyukur dapat melanjutkan kuliah di Universitas Negeri dan mendapatkan beasiswa bidik misi yaitu gratis uang kuliah selama empat tahun.
    Sekarang setelah masuk kuliah dia baru sadar bahwa Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik dari rencana yang dia pikirkan. Keyakinan yang selalu dia junjung sejak kecil dan itu memang terbukti yaitu selama ada kemauan pasti ada jalan, kalau orang lain bisa dirinya juga pasti bisa dan selalu berusaha yang terbaik karena Tuhan yang menentukan. Dia juga meyakini bahwa Tuhan memberikan apa yang dia butuhkan bukan apa yang dia inginkan.

    Usaikan


    Sendiri sepi dan di pojok ruang ini
    Tiada sapa dan hampa dalam hati
    Ku tak mampu mengartikan maksudmu
    Ku tak mampu memahami langkahmu
    Ku tak mampu mendengar bisik hatimu

    Diam dan hanya diam dalam debur ombak
    Sekilas camar menyapa riang
    Seakan berkata mengapa kau sedih
    Kusampaikan pesan itu bersama gelombang air
    Kutatap birunya langit dan kudengarkan suaranya

    Ku bicara pada yang diam
    Ku melihat pada yang tak terlihat
    Ku sampaikan pada yang tak tersapa
    Semoga kau tau maksud hatiku
    Semoga kau tau yang ku mau

    Ku ingin sekali saja kau menyapaku
    Menanyakan bagaimana keadaanku
    Bagaimana hari- hariku
    Sampai dimana kisah pertualanganku
    Cukup sekali saja

    Sudah abaikan saja hal itu
    Pergi, menjauh dan lupakan
    Tiada usah kau sentuh lagi
    Tiada usah kau pikir lagi
    Biar senyum dan bayangnya tetap disini
    Tinggal dalam ruang hati ini
    Biar senyumanya membasahi gersangnya hati
    Biar sinarnya menembus kegelapan relung dalam diri