Mari Kita Renungkan


Alhamdulillahi Robbal Alamin
Dapat nasehat yang sangat bagus malam ini. Nasehat ini disampaikan oleh Drs. Satori Abdurrauf, isinya adalah sebagai berikut.
Bulan Ramadhan sedang kita jalani dan kita sudah puasa sejauh ini, namun pertanyaanya apakah kita sudah benar- benar “menemui” Si Bulan Ramadhan yang merupakan “tamu” bagi umat islam?
Sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 183, “puasa diwajibkan atas orang- orang yang beriman”… dari sini sangat jelas bahwa yang menemui bulan Ramadhan yang di dalamnya ada perintah untuk berpuasa adalah bagi orang- orang yang ber-IMAN.
Sekarang mari kita renungkan bersama untuk menemukan iman :
1. Sabar ; Sabar itu baik atau tidak? Siapa yang tidak ingin menjadi orang sabar? Karena sabar adalah sebagian dari iman. Pertanyaan selanjutnya adalah sabar itu enak atau tidak? Jika enak, pertanyaan selanjutnya adalah sabar itu mudah atau susah? Jika jawabnya susah berarti tidak enak. Kesimpulanya Sabar itu harus kita hadirkan dengan mudah pada diri kita.
2. Ihklas ; Ihklas itu mudah atau susah? Jika misalnya kita pernah disakiti orang dan kita mencoba untuk memaafkanya tapi benar- benar ihklaskah? Kalau misalkan ada tamu yang tidak penting dating kerumah kita sementara kita sedang memiliki urusan yang penting, bagaimanakah sikap kita? Ihklaskah atau nggrundelkah kita?
3. Pahala ;kita hidup menginginkan pahala atau tidak, besar atau kecilkan yang kita inginkan? Kalau jawabnya besar, pertanyaanya adalah saat ada teman kita yang sedang “mrengut” atau manyun terhadap kita, bagaimana sikap kita, apakah ikut menyun ataukah tersenyum? Kalau jawabnya ikut menyun berarti kita menyia- nyiakan kesempatan yang diberikan Allah untuk mendapatkan pahalanya.
4. Dosa ; semua perbuatan buruk itu membawa kepada dosa dan dosa membawa kepada neraka. Pertanyaanya Allah menciptakan neraka buat siapa? Pertanyaan selanjutnya dalam sehari- hari dosa masih menjadi “Tren” atau sudah sama sekali tidak tren? Kalau misalkan banyak muslimah yang memertontonkan auratnya, kemudian kaum lelaki melihat, bagaimanakah itu?
5. Aherat ; Pertanyaanya apakah selamanya kita akan di dunia? Padahal Allah telah menjelaskan dengan firmanya bahwa kehidupan abadi adalah aherat. Aherat adalah tempat pulang, aherat adalah rumah. Jadi di dunia ini kita adalah dalam misi “pergi” dan setiap yang pergi pasti “kembali”. Pertanyaan selanjutnya akankah kita pulang, sudah siapkah kita pulang, maukah kita pulang? Kalau jawabnya belum berarti, mari kita coba pahami cerita ini. Kalau misalkan ada orang yang pergi dari rumah, tidak akan pulang dan tidak mau pulang, berarti orang tersebut disebut “minggat”.
Sudahkah kita menemui tamu kita, ataukah tamu kita masih kita biarkan di depan pintu gerbang rumah kita? Kuncinya adalah Iman untuk bisa menemui “tamu” kita. Pertanyaan selanjutnya sudahkan iman ada di dalam diri kita, ataukah entah pergi mengembara tak tau kemana? Jika kita sedang pergi kemudian ada tamu ke rumah kita, apakah kita bisa menemui si tamu?
Begitu juga dengan iman, saat iman itu tidak ada dalam diri kita, ibarat rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya pasti akan kotor, saat iman tidak ada dalam diri kita maka kehidupan kita akan “semrawut”. Untuk bisa menghadirkan Iman dalam diri kita, ada satu kuncinya, mari kita merubah semua sudut pandang kita menjadi sudut pandang Aherat bukan lagi duniawi. Kalau kita berpikir dan mendapatkan aherat pasti dunia akan kita dapat pula, tapi sebaliknya kalau kita hanya berpikir dunia dan mendapat dunia maka aherat tidak akan kita dapat. Contohnya begini, kita menanam padi pasti tumbuh teki, tapi kalau kita menanam teki akankah tumbuh padi juga?
Marilah kita melakukan semua yang berpahala dan meninggalkan yang tidak ada keterkaitan dengan aherat. Kalau misalkan kita bangun malam dan sholat malam berarti kita berpikir aherat, tapi kalau kita bangun malam dan nonton bola, apakah kuburan kita besok akan menjadi lapang seluas lapangan bola?
Marilah kita renungkan kembali dan kita perbaiki kehidupan kita, semoga bermanfaat.