Cacing ini Bisa Menyala Dalam Gelap


 

Gua Cacing Berkialu_1

Di Selandia Baru, ada sebuah gua tempat rekreasi yang di dalamnya terdapat cacing-cacing yang dapat menyala dalam gelap. Cacing bernama Arachnocampa luminosa ini terdapat banyak sekali di gua yang bernama Waitomo Glowworm Caves. Kalau kamu nggak jijikan sama cacing sih boleh aja nih berwisata ke gua ini. Kalau KVLT sihhh yaaa…. Jijik.

Lebih lengkap tentang info gua ini, kamu bisa berkunjung ke websitenya di sini.

Gua Cacing Berkialu_2

Gua Cacing Berkialu_3

Gua Cacing Berkialu_4

Gua Cacing Berkialu_5

Gua Cacing Berkialu_6

Gua Cacing Berkialu_7

Gua Cacing Berkialu_8

Gua Cacing Berkialu_9

Gua Cacing Berkialu_10

Gua Cacing Berkialu_11

Gua Cacing Berkialu_12

Gua Cacing Berkialu_13

Gua Cacing Berkialu_14

Advertisements

KALAU KAU SIBUK KAPAN KAU SEMPAT


Kalau kau sibuk berteori saja
Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori?
Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja
Kapan kau sempat memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk mencari penghidupan saja
Kapan kau sempat menikmati hidup?
Kalau kau sibuk menikmati hidup saja
Kapan kau hidup?

Kalau kau sibuk dengan kursimu saja
Kapan kau sempat memikirkan pantatmu?
Kalau kau sibuk memikirkan pantatmu saja
Kapan kau menyadari joroknya?
Kalau kau sibuk membodohi orang saja
Kapan kau sempat memanfaatkan kepandaianmu?
Kalau kau sibuk memanfaatkan kepandaianmu saja
Kapan orang lain memanfaatkannya?
Kalau kau sibuk pamer kepintaran saja
Kapan kau sempat membuktikan kepintaranmu?
Kalau kau sibuk membuktikan kepintaranmu saja
Kapan kau pintar?

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya?
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja
Kapan kau menyadari celamu sendri?
Kalau kau sibuk bertikai saja
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian?
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?

Kalau kau sibuk bermain cinta saja
Kapan kau sempat merenungi arti cinta?
Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja
Kapan kau bercinta?

Kalau kau sibuk berkutbah saja
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah?
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja
Kapan kau akan mengamalkannya?
Kalau kau sibuk berdzikir saja
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja
Kapan kau kan mengenalnya?
Kalau kau sibuk berbicara saja
Kapan kau sempat memikirkan bicaramu?
Kalau kau sibuk memikirkan bicaramu saja
Kapan kau mengerti arti bicara?
Kalau kau sibuk mendendangkan puisi saja
Kapan kau sempat berpuisi?
Kalau kau sibuk berpuisi saja
Kapan kau akan memuisi?

(Kalau kau sibuk dengan kulit saja
Kapan kau sempat menyentuh isinya?
Kalau kau sibuk menyentuh isinya saja
Kapan kau sampai intinya?
Kalau kau sibuk dengan intinya saja
Kapan kau memakrifati nya-nya?
Kalau kau sibuk memakrifati nya-nya saja
Kapan kau bersatu denganNya?)

“Kalau kau sibuk bertanya saja
Kapan kau mendengar jawaban!”

 

~Gus Mus~

Generasi Masa Depan


Percakapan antara kawula alit dengan “generasi masa depan” yang wujudnya aneh- aneh (kerdil, pincang, miring, terbalik, kering, tergantung, rabun, tegang, entah, dan paling).

Ceritanya generasi masa depan ingin bertemu dengan “penguasa negeri” antah brantah, ntah dimana itu aku gak tau, tapi kalau dilihat dari cirinnya sepertinya tidak asing hehe…

Kawula alit : (kaget) lha dalah…. ini ada wujud apa, kerdil, aneh, compang- camping, tuyul? bukan…., robot? bukan….

Serentak rombongan generasi masa depan menjawab : kami generasi masa depan….!

Kawula alit : sudah tahu saya kalau kalian ini penduduk masa depan. Cuma kok wujudnya aneh begini ya!

Si Kerdil : Mode-nya memang sudah berbeda. Anda manusia masa silam si…

Si Kering : Yang trendy ya yang seperti kami ini.

Si Rabun : Ini seni tinggi, Pak Dhe! seni adiluhung…

Si Pincang : Marketable! Layak Go Internasional, layak pasar!

Si Miring : Camera face! Fotogenic!

Si Tergantung : Sembodro abad 32!

Si  Tegang : Situ sendiri rumongso situ bagus ‘po!

Si Entah : Inilah juara cover Boy tahun 2032 (menunjuk Kawula alit)

Kawula alit : Saya telah mendapatkan bahan- bahan identitas kalian dari Mbah Maridjan Gunung Merapi. Yang kerdil mana, coba?

Si Kerdil : Saya, Lik!

Kawula Alit : Kok bisa kerdil itu ceritanya bagaimana?

Si Kerdil : Ya sama persis dengan Njenengan, wong nJenengan lebih kerdil dibanding saya gitu kok!

Kawula Alit : Yang Pincang, mana?

Si Pincang : Saya, Dab!

Kawula Alit : Lha kalau kamu, kok bisa pincang?

Si Pincang : Karena ketika Ibu saya hamil, banyak orang pincang.

Kawula Alit : Ah, guyon kamu!

Si Pincang : Lha Emang benar. Asli. Banyak orang pincang. Tidak hanya orang biasa yang pincang. Penggede- penggede juga banyak yang pincang.

Kawula Alit : Penggede pincang bagaimana?

Si Pincang : Maksud saya pincang akalnya. Moralnya.

Kawula Alit : Jadi mending mana pincang moral atau pincang kaki?

Si Pincang : Mending ga pincang Oom.

Kawula Alit : yang miring mana?

Si Miring : Saya di sini, Mbah!

Kawula Alit : Kalau kamu saya tanyai kenapa miring, pasti kamu juga menjawab di zaman kamu lahir banyak orang miring otaknya?

Si Miring : Tidak! Siapa bilang saya akan menjawab demikian?

Kawula Alit : Lha jawaban kamu bagaimana, coba?

Si Miring : Yang miring itu aturanya, disiplinya, undang- undangnya, hukumnya. Miring itu artinya tidak tegak.

Kawula Alit : Yang Terbalik, mana?

Si Terbalik : Daleem Pakdhe.

Kawula Alit : kamu terbalik. kamu pasti juga dilahirkan oleh zaman yang serba terbalik. Logika terbalik, ni terbalik, jalan berpikir terbalik….

Si Terbalik : Bukan Kok, Pakdhe. Yang terbalik cuma satu saja. Hanya saja karena yang satu ini sangat besar dan awet, maka yang lain- lainya juga tak berani kalau tidak ikut terbalik.

Kawula Alit : Yang Keriiing…sini!

Si Kering : Sendiko, Paduka. Rebat Cekap. Saya ini kering kerontang, karena sungai- sungai sudah kering, hutan sudah kering, lahan mancing nafkah sudah kering, wilayah bisnis sudah kering karena monopoli….

Si Kerdil : Aku menjadi kerdil karena Bapakku harus menunggu sekarat dulu untuk berani mengemukakan mana yang benar mana yang salah!

Si Miring : Mentalku miring karena kutahu dari orang- orang tuaku adalah menkambing hitamkan orang benar dan menjunjung orang salah salah!

Si Terbalik : Akal dan logikaku terbalik- balik karena kalau kakaku berkata hitam, yang dimaksud adalah merah, dan kalau kakakku berkata hijau, yang ia maksud sesungguhnya kuning!

Si Pincang : Bagaimana kaki hidupku tak pincang, kalau Bapakku memahami jabatanya tidak tugas kerakyatan, melainkan sebagai alat kepentingan karier pribadinya sendiri!

Si Kering : Jiwaku kering, hatiku sunyi, perasaanku bebal, karena yang kukenal selama masa pendidikanku hanyalah harga benda, cara merebut, teknologi egoism, serta teknik merampok.

Si Tergantung : Yang kucita- citakan adalah bagaimana menunggangi dan memanfaatkan orang lain. Yang kuidamkan adalah bagaimana aku bisa menindas siapa saja, karena yang diajarkan kepadaku adalah perasaan tertindas!

Si Rabun : Aku menyesal mataku jadi rabun, karena yang kualami hanyalah pembredelan terhadap kebenaran. Tapi aku bersyukur bahwa mataku rabun, karena dengan demikian hatiku tidak terlalu sedih karena menyaksikan terlalu banyaknya kebenaran disembunyikan.

Si Entah : Entaaaaaaah!!

Embuuuuuuh!!

 

 

 

~Duta Dari Masa Depan~ EAN

It’s About…


Gerakan Pikiranmu jangan Menunggu pikiranmu Digerakan

waw kata- kata ini terngiang-ngiang dalam telinga ini, kata- kata yang saya dapatkan dari saudara kamadiksi yang anaknya memang “super”. Dia ingin membuktikan bahwa semua dapat terjadi oleh keinginan yang kuat dari dalam diri kita, jangan dengarkan orang lain berkata atau mencemooh kita. Just prove bahwa kita bisa…..

ada lagi kata- kata dari salah satu orang yang saya kagumi :

Lihatlah jangan dengan Mata

Dengarlah jangan dengan Telinga

Rasakan, Nikmati, dan Renungi setiap sesuatu di sekitar dan dalam diri dengan Cahaya Hati

Itu Bukan Cinta


wajahmu datar dan sepi
tak ada yang tersisa lagi
peluhmu tak ada lagi
terkuras lelahnya hati

aku tahu apa yang sedang terjadi
kini

teriakkan saja saat kau berkata
kepada dunia, itu bukan cinta!
dia takkan bisa membuatmu merasa
kehilangan arah dalam di jiwa

kau lelah aku mengerti
tak mudah untuk patah hati
kau lelah dan engkau benci
tapi tak juga terobati

aku tahu apa yang sedang terjadi
kini, kini

teriakkan saja saat kau berkata
kepada dunia, itu bukan cinta!
dia takkan bisa membuatmu merasa
kehilangan arah dalam di jiwa

dan cinta semestinya ada
tuk sebuah hati yang terbuka

teriakkan saja saat kau berkata
kepada dunia, itu bukan cinta!
dia takkan bisa membuatmu merasa
kehilangan arah nada

teriakkan saja saat kau berkata
kepada dunia, itu bukan cinta!
dia takkan bisa membuatmu merasa
kehilangan arah dalam di jiwa
…..Letto….

Secercah Diskriminasi dalam Dunia Kesehatan


Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakukan diskrimiatif itu”. Pernyataan tegas menentang diskriminasi tersebut tertuang dalam UUD NRI 1945 Pasal 28I ayat (2). Ketentuan tersebut berlaku secara universal diberbagai bidang dalam yurisdiksi NKRI. Dalam  praktek  dewasa  ini  sepertinya masih  jauh  api  dari  panggang, masih  jauh  impian  dengan  kenyataannya. Ketika  hak-hak sebagai warga negara masih sangat sedikit yang  menikmati,  namun  kewajibannya  harus tetap dilaksanakan. Dilihat  dari  pasal  kelima  seharusnya saat ini hak warga negara  lebih  diperhatikan,  misalnya  hak  yang  paling  mendasar  yakni  Hak Asasi Manusia.

Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal  dilahirkan  yang  berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu  gugat  siapa  pun. Sebagai  warga  negara  yang  baik  kita  mesti menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia tanpa membeda-bedakan  status, golongan, keturunan, agama, jabatan, dan lain sebagainya.

Melanggar HAM seseorang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Hak Asasi Manusia memiliki wadah organisasi yang mengurus permasalahan  seputar  hak  asasi  manusia  yaitu  Komnas  HAM.  Kasus pelanggaran HAM di Indonesia memang  masih  banyak  yang  belum terselesaikan/tuntas sehingga diharapkan perkembangan dunia HAM di Indonesia dapat  terwujud ke arah yang  lebih baik. Salah satu  tokoh HAM di Indonesia  adalah  Munir  yang  tewas  dibunuh  di  atas  pesawat  udara  saat menuju Belanda dari Indonesia.

Di Indonesia pelanggaran-pelanggaran terhadap HAM menyebabkan banyak rakyat menderita. Contoh nyata akibat pelanggaran HAM tersebut antara lain adalah:

1.  Kemiskinan

Indonesia  adalah  sebuah  negara  yang  penuh  paradoks. Negara yang tanahnya subur dan kekayaan alamnya melimpah, namun sebagian besar rakyat tergolong miskin. Hal ini  sebenarnya didasari oleh  rendahnya kualitas SDM karena  latar belakang pendidikan yang masih  tergolong  rendah dan kualitas moral para pemimpin yang tidak baik. Maksudnya adalah  ketidak merataan pembangunan  dibeberapa  daerah  sehingga  beberapa  wilayah  di  Indonesia

Memiliki nilai kemiskinan yang rendah sedangkan daerah lainnya memiliki angka kemiskinan yang tinggi. Jadi ini adalah bukti tidak adilnya pemerintah terhadap kehidupan sosial  masyarakat  Indonesia  yang  menyebabkan kemiskinan.

2.  Ketimpangan dalam pendidikan

Banyak  anak usia  sekolah harus putus  sekolah karena biaya, mereka harus  bekerja  dan  banyak  yang  menjadi  anak  jalanan.  Walaupun  sudah diberlakukannya beberapa  program  untuk  mengurangi biaya sekolah atau bahkan membebaskan biaya sekolah dengan BOS (Biaya Operasional Sekolah) tapi kenyataannya pembagiannya masih  belum  merata  diseluruh  wilayah

Indonesia dan masih banyak dipotong oleh pihak-pihak tertentu.

3.   Ketimpangan dalam pelayanan kesehatan

Dalam KBBI, sehat adalah kondisi seluruh badan serta bagian-bagiannya yang bebas dari sakit, waras, mendatangkan kebaikan pada badan, sembuh dari sakit, baik dan normal tentang pikiran, boleh dipercaya atau masuk akal tentang pendapat, berjalan dengan baik atau sebagaimana mestinya dalam keuangan, ekonomi serta bidang lainnya, dijalankan dengan hati-hati dan baik. Sehat itu bisa disebutkan atas akal (waras dan tidak gila), afiat (sehat walafiat), pikiran (sehat akal), dan walafiat (sehat dan kuat atau benar-benar sehat). Sedangkan dalam UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 1 angka 1 bahwa “Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis”

Keadilan dalam kesehatan masih belum dirasakan oleh masyarakat miskin Indonesia. Didalam  hal  ini  maksudnya  adalah  belum  dirasakan manfaat  PJKMM (Program Jaminan Kesehatan  Masyarakat  Miskin)  atau ASKESKIN (Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin) sehingga munculnya anggapan  “orang miskin  dilarang  sakit”  karena  biaya  berobat  di  Indonesia bisa dikatakan cukup tinggi dan hanya untuk kalangan menengah ke atas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa telah terjadi praktek komersialisasi dunia kesehatan di Indonesia. Komersialisasi akan merugikan rakyat dan hanya akan menguntungkan para pemilik modal. Pelayanan kesehatan yang ditawarkan oleh berbagai rumah sakit saat ini hanya diukur dari bagaimana pihak rumah sakit dapat meraup keuntungan. Hal ini terbukti dari data yang mengungkap, bahwa sejak tahun 1998 tingkat pertumbuhan pembangunan rumah sakit swasta lebih tinggi ketimbang rumah sakit pemerintah, yaitu 2,91 persen berbanding 1,25 persen per tahun. Penyediaan obat-obatan untuk pasien selalu berorientasi maksimalisasi keuntungan perusahaan-perusahaan farmasi. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan orang miskin tidak akan memiliki akses kepada pelayanan kesehatan karena tidak memiliki biaya untuk berobat.

Semua itu merupakan buah dari diterapkannya sistem neoliberal isme sejak bertahun-tahun lalu di Indonesia dan dianut oleh pemerintahan Indonesia yang terdahulu maupun yang sekarang. Sistem neoliberal isme ini bukan hanya dapat dirasakan dalam pelayanan kesehatan, namun saat ini dapat dirasakan di berbagai bidang. Biaya pendidikan menjadi sangat mahal sehingga menyebabkan rakyat pekerja yang tidak memiliki uang tidak akan mampu untuk mendorong keluarganya mengenyam pendidikan. Begitu juga melambungnya harga-harga kebutuhan pokok, BBM, transportasi, upah yang murah, dan lain-lain.

Liberalisasi Sektor Kesehatan Indonesia

Satu hal yang harus selalu diingat bahwa sistem neoliberal isme bukanlah sebuah produk yang benar-benar baru, tetapi dia adalah sebuah proses revisi terhadap sistem ekonomi sebelumnya tanpa menghilangkan kerja dasar dari sistem ekonomi sebelumnya yaitu sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi liberalnya Adam Smith, lalu sistem “penyelamat kapitalisme awal” keynesian serta yang terbaru yaitu sistem ekonomi neoliberal  adalah sama-sama sebuah sistem yang menempatkan sistem produksi yang menempatkan adanya kaum yang mempunyai modal dan kaum buruh yang hanya bekerja didalam proses produksi.

Sistem Kapitalisme-Neoliberal  mulai berkembang sejak tahun 1970an yang merupakan koreksi terhadap sistem keynesian yang telah berlaku sejak 1930an. Sistem kapitalisme-keynesian dikritik oleh kaum penganut neoliberal  karena terlalu banyaknya campur tangan negara dalam proses pasar mengakibatkan pasar terdistorsi. Artinya adanya pihak ketiga yang mencampuri proses transaksi, kebebasan individu adalah hal yang paling utama. Sistem ini disebut Neo-liberal karena menginginkan suatu sistem ekonomi yang sama dengan kapitalisme abad-19, dimana kebebasan individu berjalan sepenuhnya dan campur tangan sesedikit dari negara dalam kehidupan ekonomi. Sebagai penentu utama dalam kehidupan ekonomi adalah mekanisme pasar, bukan pemerintah. Mekanisme pasar akan diatur berdasarkan pandangan individu, serta pengetahuan para individu akan dapat memecahkan segala persoalan yang timbul dalam persoalan ekonomi, sehingga mekanisme pasar dapat menjadi alat juga untuk memecahkan masalah sosial bagi kaum neoliberal is, pengetahuan para individu untuk memecahkan persoalan masyarakat tidak perlu disalurkan melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan, yang sekali lagi berarti segala sesuatunya tergantung pada individu bukan pada organisasi, yang berarti juga paham neoliberal  ini tidak percaya organisasi sebagai alat pemecahan persoalan individu.

Proses mendunianya paham ini dimulai dengan cepat setelah dekade 1980an dua pemimpin negara kapitalis terkemuka di dunia menjadi penganutnya yaitu Margaret Thatcher di Inggris dengan Thatcherism dan Ronald Reagan di Amerika Serikat dengan Reaganomicsnya. Pada dekade inilah kebebasan individu dan kompetisi yang bebas diimplementasikan dan disebarluaskan dalam sebuah sistem ekonomi. Persoalan kemiskinan individu tidak lagi menjadi persoalan bagi negara karena hal tersebut menjadi sebuah yang lumrah dalam sebuah kompetisi yaitu, pasti ada yang tidak mampu bertarung dalam kompetisi tersebut dan yang tidak mampu itu lah yang menjadi miskin. Dampak penerapan neoliberal-isme ini terlihat dengan meningkatnyanya angka kemiskinan baik di Inggris maupun Amerika, disisi lain sistem ini meningkatkan pendapatan dan keuntungan bagi para pemegang modal. Misalnya di Amerika selama dekade 1980an, 10% teratas meningkat pendapatannya 16%; 5% teratas meningkat pendapatannya 23%; dan 1% teratas meningkat pendapatannya sebesar 50%. Hal ini berkebalikan dengan 80% terbawah yang kehilangan pendapatan; terutama 10% terbawah kehilangan pendapatan15%.

Ada beberapa hal yang menjadi prinsip dari tata sistem ekonomi neoliberal  ini. Pertama, menghapus segala peraturan pemerintah yang bisa membatasi perusahaan-perusahaan dalam berinvestasi maupun berusaha. Adanya liberalisasi sebesar-besarnya atas perdagangan internasional dan investasi. Tidak ada lagi kontrol harga sepenuhnya kebebasan total dari gerak modal, barang, jasa dan konsumen.

Kedua, memotong pengeluaran negara pada sektor pelayanan sosial. Anggaran pada sektor pelayanan sosial dianggap tindakan yang memboroskan anggaran dan dapat mengakibatkan pasar terdistorsi, sehingga alokasi anggaran dalam sektor pelayanan sosial ini harus dikurangi atau bahkan dihilangkan. Konkritnya, subsidi negara untuk BBM, dunia pendidikan, kesehatan, pertanian dan anggaran untuk pengangguran dll, harus di kurangi atau ditiadakan sama sekali.

Ketiga, kebijakan Deregulasi, mengurangi atau bahkan menghilangkan paraturan-peraturan dari pemerintah yang bisa memberatkan pengusaha, liberalisasi seluruh kegiatan ekonomi termasuk penghapusan segala jenis proteksi.

Keempat, Privatisasi asset. Menjual BUMN-BUMN di bidang barang dan jasa kepada investor swasta. Termasuk bank-bank, industri strategis, jalan raya, jalan tol, listrik, sekolah, rumah sakit, bahkan juga air minum. Alasan privatisasi ini adalah agar menghindarkan distorsi pasar oleh BUMN-BUMN tersebut, dan BUMN dianggap bisa menghalangi perkembangan modal privat.

Peran terpenting dalam mengglobalkan sistem neoliberal  ini adalah melalui IMF, Bank Dunia dan WTO. Serta pintu masuk kenegara dunia ketiga adalah melalui jebakan utang, yaitu utang yang diberikan secara terus menerus tanpa ada pengawasan yang ketat terhadap penggunaan dana utang tersebut yang mengakibatkan pemerintahan nasional negara dunia teresbut menjadi kecanduan dan akhirnya tidak berdaya lagi menolak perubahan sistem ekonomi nasionalnya dengan mekanisme SAP (structural Adjustment Program). Dengan SAP inilah pemilik modal besar di Internasional mampu merubah sistem ekonomi yang sudah ada menjadi sistem ekonomi yang sesuai dengan keinginan mereka dalam mengembangakan investasi dan keuntungan. SAP ini dilakukan melalui langkah: (a) pembukaan keran impor sebebas-bebasnya dan adanya aliran uang yang bebas; (b) Devaluasi; (c) Kebijakan moneter dan fiskal dalam bentuk: pembatasan kredit, peningkatan suku bunga kredit, penghapusan subsidi, peningkatan pajak, kenaikan harga kebutuhan publik.

Paket SAPs yang diusung oleh rezim neoliberal  sejak awal tahun 1980-an, turut memberi andil besar dalam proses pemiskinan dan ketidakberdayaan negara-negara berkembang untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi rakyatnya. Salah satu proposal dari ekonomi neoliberal  adalah meliberalisasi dan memprivatisasi seluruh aspek kehidupan masyarakat dalam logika pasar bebas. Dalam hal ini ada dua proyek neoliberal  yang secara langsung berimbas pada pelayanan kesehatan di dunia berkembang, yaitu pemotongan subsidi kesehatan oleh negara dan privatisasi pelayanan kesehatan kepada swasta. IMF dan BD mengajukan pemotongan subsidi dan privatisasi dengan logika bahwa subsidi membebani anggaran negara dan tidak sejalan dengan semangat kompetitif pasar bebas. Sebagai solusinya, pelayanan kesehatan kepada publik harus diswastanisasi. Selain itu pelayanan kesehatan menjadi bisnis dengan motivasi mendapatkan profit. Akibatnya, akses dan hak rakyat miskin untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, berkualitas dan murah (bahkan gratis) dihilangkan. Bank Dunia telah merekomendasikan berbagai bentuk privatisasi dalam sektor kesehatan, privatisasi perawatan kesehatan telah memotong akses kepada berbagai pelayanan mendasar bagi rakyat miskin. Penerapan prinsip-prinsip pasar dalam perawatan kesehatan telah mentransformasikan pelayanan kesehatan dari pelayananan publik menjadi komoditi swasta. Akibatnya akan meniadakan akses bagi orang miskin yang tak mampu membayar pelayanan swasta.

Kebijakan lain dari IMF dan Bank Dunia yang mematikan adalah politik utang luar negeri. Misalnya saja Indonesia, akibat jeratan utang luar negeri ini, anggarannya harus dipangkas besar-besaran. Anggaran negara, sebagian besar justru ditujukan untuk membayar cicilan dan bunga utang luar negeri, ketimbang membiayai pelayananan publik kepada orang miskin. Ambil contoh Uganda, yang menghabiskan 1.6 persen GDP untuk kesehatan dan 2.4 persen untuk cicilan utang; Zimbabwe 3.4 persen dan 10.3 persen; Zambia 3.2 persen dan 9.8 persen.

Hubungan Perusahaan Farmasi, WTO dan HAKI

Perusahaan farmasi multinasional sangat sedikit perhatiannya pada pelayanan kesehatan rakyat. Bukan karena ilmu pengetahuan tak dapat menjangkaunya, tapi karena jasa kesehatan sudah di anggap menjadi komoditi pasar yang sangat menguntungkan. Perusahaan Farmasi beralibi, mereka tak mendapatkan balik biaya atas investasi riset yang dilakukan. Tanggung jawab perusahaan farmasi adalah kepada para pemegang saham yang tahunya dalam laporan tahunan harus mendapatkan deviden bukan kepada proyek kemanusiaan. Dikantor pusat berbagai perusahaan obat terkenal, poster humas memberikan gambaran bahwa perusahaan menaruh perhatian pada kemanusiaan dan berkomitmen untuk merawat mereka yang sakit. “Apa yang tidak mereka katakan adalah bahwa kemanusiaan mereka tergantung dari isi kantong si pasien.”

Perusahaan farmasi juga mempunyai jaringan lobi yang kuat kepada pengambilan keputusan politik di parlemen dan pemerintahan negara-negara kaya. Jalur lobi tersebut digunakan untuk melindungi kepentingan mereka diseluruh dunia seperti hak paten yang ketat, memonopoloi produk obat-obatan, memberikan harga yang tinggi bagi obat-obatan dan pelayanan medis.

Demi kepentingan menjaga citra, sekarang mulai banyak perusahaan farmasi memberikan bantuan obat-obatan dan program corporate social responbility (CSR). Mereka juga mendonasikan uang untuk berbagai insisiatif global. Tapi, ironisnya, perusahaan farmasi tidak mau beranjak pada isu fundamental yang sangat dibutuhkan oleh negara-negara berkembang seperti; akses untuk obat-obatan yang penting, isu hak paten dan, hak negara miskin untuk mengembangkan pengobatan alternatif.

Salah satu benteng perusahaan Farmasi untuk mendesakan kepentingannya secara global, adalah kebijakan global menyangkut hak paten dan intelectual property (HAKI) yang diputuskan oleh World Trade Organization (WTO). Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa WTO adalah alat dari negara maju dan perusahaan multinasional, untuk memaksakan kepentingan ekonomi dan politiknya atas negara-negara berkembang. Pada tahun 1994, WTO telah mengadopsi TRIPS (Trade-Related Aspects of Intellectual Property). Obat-obatan termasuk didalamnya pada bagian aturan paten. Dalam aturan paten tersebut, perusahaan multinasional Farmasi diberikan hak memonopoli obat-obatan yang dapat menyelamatkan kehidupan manusia hingga 20 tahun. Negara miskin yang membutuhkan obat-obatan harus menunggu 20 tahun untuk dapat merasakan keuntungan dari obat-obatan tersebut. Negara-negara berkembang harus mengadopsi aturan TRIPS hingga tahun 2006.

Aturan TRIPS untuk obat generik juga dibatasi hanya untuk kepentingan domestik bukan untuk ekspor. Namun, pada prakteknya, perusahaan farmasi juga menolak pengembangan obat generik itu. Kasus ini misalnya dapat dilihat dalam penyediaan obat-obat AIDS seperti yang terjadi di India, Thailand, dan Afrika Selatan. Kebijakan ini berarti negara yang tidak mempunyai industri farmasi yang padat modal, tetap harus mengimpor obat-obatan dari perusahaan multinasional. Mereka tak diperbolehkan mengimpor obat generik dari negeri berkembang yang sudah mengembangkan obat generik untuk AIDS.

Pada pertengahan tahun 1999, perusahaan farmasi multinasional melobi pemerintahan Bill Clinton, untuk memberikan sanksi ekonomi kepada Afsel, karena keberhasilan pemerintah Afsel mengadakan obat generik yang murah untuk memerangi AIDS. Pharmaceutical Research and Manufacturers of America (PhRMA) and perusahaan farmasi seperti Bristol-Myers Squibb, Glaxo-Wellcome, and Pfizer yang terkenal dengan produksi obat-obatan untuk AIDS, menuduh Afsel telah melanggar aturan paten dan intelectual property, seperti yang disepakati dalam perjanjian WTO. Namun, tentu saja mudah ditebak, dibalik tekanan politik tersebut adalah ketakutan dari perusahaan farmasi itu akan direbutnya pasar obat-obatan yang sebelumnya mereka monopoli.

 

Dampak Liberalisasi dan Komersialisasi Sektor Kesehatan

Lepasnya tanggung jawab negara dengan cara mendorong praktek liberalisasi dan komersialisasi sektor kesehatan ini, telah membawa banyak dampak buruk bagi orang-orang miskin. Pertama, pemberlakuan sistem pembayaran yang disebut “user fees” pada pelayanan kesehatan publik. Disini, hampir tidak ada pembedaan antara RS pemerintah dan RS swasta, sehingga menyempitkan kesempatan bagi rakyat miskin untuk memperoleh pelayanan kesehatan murah.

Kedua, adanya segmentasi dalam pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat. Artinya, setiap golongan masyarakat akan mendapatkan pelayanan kesehatan berdasarkan kemampuan ekonominya. Orang miskin akan mendapatkan pelayanan kesehatan apa adanya (darurat), sementara orang kaya akan mendapatkan pelayanan lebih bagus dan canggih. Hal ini, bagaimanapun sangat bertentangan dengan prinsip “pelayanan kesehatan untuk semua”, tanpa pandang bulu.

Ketiga, Karena tujuan pelayanan kesehatan sekarang ini adalah mengejar profit semata, maka faktor “kemanusiaan” menjadi semakin terpinggirkan dalam hal pemberian pelayanan yang layak. Dalam kasus Prita Mulyasari, misalnya, terkesan dokter melakukan pelayanan yang sekedar memperbesar keuntungan (profit), bukan mempertimbangkan apa keluhan dan penyakit si pasien.

Keempat, karena sistem kesehatan sudah dikomersialisasi atau diliberalisasikan, maka pelayanan kesehatan hanya bersifat individual, bukan lagi sebagai sebuah gerakan kolektif untuk menyehatkan bangsa. Padahal pengembangan sistem kesehatan nasional berfungsi untuk menguatkan sumber daya manusia (SDM), yang tentunya akan berpengaruh terhadap laju perkembangan ekonomi bangsa.

Diskriminasi atas kesehatan menutup kesempatan setiap individu untuk menjadi sehat. Pemerintah yang seharusnya menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang terjangkau justru memberikan failitas kesehatan yang mahal. Akibatnya tindakan intimidasi berupa wacana “orang miskin dilarang sakit” tidak bisa dielakkan. Pemerintah dituntut menyediakan kebijakan yang mengarah pada tersedia dan terjangkaunya pelayanan kesehatan dengan cara yang mudah dan cepat mendapatkannya.

Masyarakat miskin adalah sorotan utama dalam tulisan ini, karena semua tindakan diskriminasi kesehatan adalah mereka sebagai sasaran utama. Sulitnya mendapatkan makanan yang cukup gizi, akses air minum yang baik, sanitasi yang memadai, tempat tinggal di lingkungan yang sehat dan layak, dan kondisi lingkungan pekerjaan yang sehat dan juga aman. Golongan miskin kota selalu hidup di daerah kumuh. Kolong jembatan, daerah dekat pembuangan sampah akhir, pinggiran sungai, dan pinggiran kota lainnya adalah tempat mereka untuk membentuk keluarga.

Selain masyarakat miskin, diskriminasi juga dialami oleh kalangan different able (difable). Meski memang banyak yang tidak menyadari kalau konstruksi bangunan dengan segala fasilitas umum yang ada memberikan kesulitan dan ruang gerak yang sempit kepada difable. Saat ini permasalahan difable belum menjadi perhatian penuh dari pemerintah. Karena masyarakat masih menjadi target utama diatas semua permasalahan yang ada.

Menghadapi semua permasalahan itu maka harus ada upaya untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfil) sebagai kewajiban negara mengimplementasikan norma-norma HAM pada hak atas kesehatan harus memenuhi prinsip-prinsip :

  1. Ketersediaan pelayanan kesehatan

Negara melalui pemerintah dan alat kelengkapannya lainya memiliki kewajiban untuk memiiki sejumlah pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk. Kemudahan aksesibilitas, fasilitas kesehatan, serta barang dan jasa kesehatan. Setiap manfaat dari sarana dan infrastruktur kesehatan harus dapat diakses oleh tiap orang tanpa diskriminasi. Dalam pemanfaatannya setiap aspek kesehatan tidak diskriminatif, terjangkau secara fisik (termasuk untuk difable),terjangkau secara ekonomi, dan bisa didapatkan informasi dengan cara mencari, menerima dan atau menyebarkan informasi dan ide mengenai masalah-masalah kesehatan (informed consent).

  1. Penerimaan.

Setiap sarana dan infrastruktur kesehatan, barang dan dan jasa pelayanan harus dijalankan dengan etika medis dan sesuai secara budaya. Beberapa hal yang dapat dijadikan contoh adalah menghormati kebudayaan individu-individu, dan kearifan lokal, serta kaum minoritas. Juga dirancang untuk penghormatan kerahasiaan status kesehatan dan peningkatan status kesehatan bagi mereka yang memerlukan.

  1. Kualitas.

Dengan diterimanya budaya yang hidup di masyarakat. Setiap fasilitas kesehatan, barang, dan jasa harus berdasarkan ilmu dan secara medis sesuai dengan kualitas yang baik. Untuk menjawab setiap permasalahan yang ada negara dan setiap unsur-unsur pembentuk negara memiliki kewajiban untuk memenuhi hak atas kesehatan yaitu :

  1. Menghormati hak atas kesehatan

Negara menempuh langkah preventif dan represif agar dapat menahan diri tidak mengambil langkah yang berdampak negatif pada kesehatan. Menghindari tindakan limitasi akses pelayanan kesehatan, menghindari diskriminasi, tidak menyembunyikan dan atau menyalahgunakan informasi kesehatan yang penting, tidak menerima komitmen internasional tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap hak atas kesehatan, tidak menghalangi praktek pengobatan tradisional yang aman, dan tidak mendistribusikan obat yang tidak aman.

Setiap individu dalam menuntut haknya harus menghormati berjalannya hak orang lain. Dengan lebih dahulu menjalankan kewajibannya masing-masing. Karena setiap benturan yang terjadi antar masyarakat itu disebabkan oleh dan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri.

  1. Melindungi hak atas kesehatan

Sebagai pihak yang menjalankan pemerintahan maka pemerintah atas nama negara menempuh langkah di bidang legislasi ataupun tindakan lainnya yang menjamin persamaan akses terhadap jasa kesehatan. Pemerintah melalui legislatif menjalankan fungsinya dengan membuat legislasi dengan mengatur standar dan membuat panduan untuk melindungi tenaga kerja, masyarakat serta lingkungan.

Negara melalui lembaga dan aparatur negara lainnya memberikan perlindungan kepada warga negara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Seringnya terjadi benturan antara setiap hak membutuhkan batasan dan tindakan konkret untuk menghindari lahirnya benturan keras yang akan melahirkan chaos.

  1. Memenuhi hak atas kesehatan

Pemerintah menyediakan segala sarana dan infrastruktur dengan pelayanan kesehatan yang memadai, pangan yang cukup, dan informasi serta pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan. Faktor sosial yang berpengaruh pada kesehatan juga perlu dipenuhi dengan memberikan kesetaraan gender, kesetaraan akses untuk bekerja, kesetaraan hak anak dan dewasa untuk mendapatkan identitas kesehatan, dan pendidikan kesehatan.

 

 

Source: http://bolmerhutasoit.wordpress.com/2012/07/14/diskriminatif-dalam-implementasi-uu-no-36-tahun-2009-tentang-kesehatan/

dan berbagai sumber lain