Menimba Ilmu


Hidup mengalir adalah hidup dengan keniscayaan, ibarat seekor ayam yang berkokok di pagi hari, tidak karena dia ingin berkokok atau di dengar kokok-nya, ia berkokok karena ia memang harus berkokok.

Berjuang untuk mempelajari keinginan Tuhan atas seluruh inisiatif—Nya menyelenggarakan hidup ini lebih efektif daripada bunuh diri jangka panjang melalui penyembahan terhadap berbagai keinginan diri yang subjektif dan egoistik, dan yang pasti akan membuat kita terpuruk. Kecuali kita bisa menjadi Bayi.

Hati yang selesai adalah hati yang atas bantuan akal bisa menahklukan keinginan. Keinginan yang paling superfisial atau dangkal itu selera, keinginan yang paling mendalam, berakar dan ber-energi besar itu nafsu. Setiap gerak batin meminta “ongkos energi”, sehingga hidup yang tidak boros adalah manajemen untuk bisa me-minimalisir penggunaan energi untuk keinginan. Kalau kita bekerja keras dan benar maka secara otomatis akan mendapatkan uang dan harta, dengan demikian kita mengefektifkan energi.

~dari Kitab Ketentraman

03/31/15/AS

Simpul- Simpul


Setelah sekian lama berkelana mencari sesuatu yang telah hilang, akhir- akhir ini telah kutemukan berbagai momentum yang sangat berharga. Kutemukan banyak hal yang bisa menjadi sebuah jawaban menurut pemikiran yang masih sempit ini. Emz ini yang pertama, kenapa menjadi manusia itu begitu susah, sedangkan sangat mudah ber-transformasi menjadi binatang. Yang membedakan antara binatang dan manusia bukan terletak pada adanya otak melainkan akal, karena setiap binatang sampai yang terkecil-pun mempunyai otak. Sedangkan akal hanya diberikan pada manusia, sehingga manusia diberikan sedikit kesempatan berkehendak. Di dalam akal terdapat berbagai bentuk pemikiran, pemikiran mudah sekali dipengaruhi oleh mata dan juga pendengaran. Mata, ya mata adalah sumber dari segalanya, mulai dari hal yang hina sampai mulia, semua bisa diketahui melalui mata. Rangsangan dari mata tersebut akan diteruskan ke otak dan otak akan mencoba mentranskripsikan menjadi sebuah informasi. Setelah terbentuk informasi, maka di sinilah peranan dari akal untuk menentukan, apakah informasi tersebut akan dicerna lebih lanjut atau akan segera bisa dihapuskan. Akal tidak akan pernah salah dalam menentukan apabila selalu diberi “nutrisi” yang tepat. Ya ibarat bakteri, dia tiada akan tumbuh kalau nutrisi untuk pertumbuhan tidak terpenuhi dengan cukup. Apa sebenarnya nutrisi akal, mari kita belajar lagi. Tuhan melarang kita untuk berbuat dzolim, menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya. Sudah tahu apa yang aku maksudkan? yang jelas banyak sekali macam atau ragamnya, silahkan untuk dilanjutkan sendiri, yang pasti masih terkait dengan akal.

Ada lagi pelajaran sedikit yang telah kudapatkan mengenai mata dan telinga, kenapa dalam Quran disebut mendengar dahulu baru melihat. Apabila dikaji ternyata suatu informasi bisa sampai kepada kita lebih cepat melalui sebuah gelombang bunyi dibanding benda dalam wujudnya yang entah satu, dua ataupun tiga dimensi.  Apabila kita berada di dalam suatu ruangan kita akan mendengar bisik kendaraan yang ada di luar ruangan meskipun kita tidak melihatnya, itu adalah sebuah contoh mudahnya. Lalu apa hubunganya dengan pernyataan sebelumnya? sebentar, mari kita kembali ke topik, yang benar itu kejernihan pikiran atau kejernihan akal? kalau menurut pemahaman sempit saya kejernihan akal lebih tepat (hasile re “ngangkat aji”). Mari ber-analogi lagi, suatu air yang mula- mula keruh akan menjadi jernih jika air tersebut didiamkan beberapa saat, atau dia mengalir. Dan apa sebenarnya yang membuat keruh air tersebut, tidak lain adalah partikel debu,pasir, batu, tanah dan bahan padatan yang lain. Ya begitu juga diri ini, jika kita mampu sejenak berdiam diri mengendalikan semua gejolak, menutup mata, hening, maka bisa didengar itu nyanyian alam, bisa dilihat apa yang tak pernah terlihat mata, kapan waktu yang tepat? yaitu malam hari. Sudah ada bayangan-kah teman, ya sudah berarti tidak usah ku perpanjang lagi.

Sekarang kita bicara tentang debu yang membuat keruh air atau bahan apapun yang merubah morfologi air menjadi keruh. Sama dengan hal itu, untuk mencapai akal yang jernih, banyak sekali debu dan tabir yang menyelimuti, apalagi saat kita tumbuh dalam era serang ini, keluar kos, ke kampus, di jalan dan dimanapun, disuguhkan banyak “pengotor” ntah itu untuk mata maupun untuk pendengaran. Mencoba membuang satu- persatu tabir atau penghalang ataupun debu- debu yang berseliweran itu butuh yang namanya “ngedan, mbandel, cuek” sehingga sedikit demi sedikit bisa tersingkap dan bisa mulai mengakses akal yang sejatinya jernih. Satu kata kunci yang dapat ku ambil juga adalah tentang Mengingat/ remember, ntar lain kali dibahas lagi tentang ini.

Kedua, mengenai apa yang sering aku tulis dalam blog dan media sosial, sebuah kata- kata yang tetiba ada dalam kepala ini dan minta untuk disampaikan” Semua itu indah jika kita mampu melihat tidak hanya dari satu sisi”. Ya begitulah kurang lebih kata- kata itu, apabila dimaknakan sangat luas dan kompleks, dan yang pasti sudah banyak hal itu terjadi dalam kehidupan diri ini, mulai sejak kecil hingga sekarang. Akan kutuliskan sebuah contoh, setelah lulus SD sudah ada rencana untuk meneruskan ke SMP yang dulu menurutku tepat, masih ingatkah kalian dulu waktu mau masuk SMP ? ya, dulu sistemnya masih pakai ujian seleksi masuk selain nilai UAN. Waktu itu semua sudah dipersiapkan dengan baik, semua administrasi sudah rebes, tinggal nunggu hari ujian. Namun Tuhan ternyata berkehendak lain, sesuatu terjadi dan akhirnya dengan terpaksa aku harus membatalkan ujian pas di hari H-nya, diri seakan terbagi menjadi dua sisi, yang satu tak rela dan yang satu entah tiada karuan rasa.Ya, yang pasti aku yakin diterima di SMP itu bersama 3 temanku yang lain, dan ujian tersebut sebenarnya hanya formalitas saja, karena nilai UAN sudah lebih dari cukup, sampai- sampai panitia mendatangi ke rumah dan bertanya kenapa belum berangkat untuk ujian, sekarang sana ganti baju dan mari bareng Bapak ke SMP untuk ujian, bayangkan…..panitianya saja sampai ke rumah…..:'(. Sudah sampai disitu saja, kupersingkat akhirnya masuklah aku di SMP swasta, ternyata itu merupakan sebuah momentum titik perubahan, 180 derajat. Disitu aku dipertemukan dengan guru-guru yang super yang menginspirasiku, yah dari SD memang sudah suka IPA dan saat SMP ternyata guru IPA nya loyal dan bisa kusebut benar-benar “Guru”, yang orang jawa pasti tahu apa maksudku “Guru”. Guru yang berbeda dengan guru- guru sekarang, tugas guru sebenarnya tidak hanya menyampaikan materi tetapi guru juga merupakan seorang Pendidik,begitu pan ya semestinya. Ya mungkin waktu aku masih sekolah, namanya adalah lembaga pendidikan bukan lembaga sekolahan, cobalah untuk dicarikan lagi bedanya kawan antara lembaga Pendidikan dengan lembaga Sekolahan….!

Malah melebar ni, kembali lagi ke topik, ya dari situ ternyata banyak sekali keindahan yang kutemukan sampai saat ini. bertemu dengan berbagai jenis orang yang kharakter dan sifatnya berbeda- beda. Mempunyai teman teman yang super dan lain sebagainya, Apakah semua itu benar pertemuan, bukan kata yang tepat adalah dipertemukan.  Tuhan memberikan semua yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, kenapa? ya karena Tuhan yang menciptakan kita, ibarat seorang profesor membuat robot, dia tahu semua komponen yang ada di robot tersebut dan apa peran setiap komponen tersebut. Manusia dicipta tujuanya untuk apa, kenapa ditempatkan di bumi, kok tidak di planet yang lain atau bahkan di galaksi yang lain? sebuah pertanyaan retoris.

Kembali ke topik, sebagai seorang mahasiswa dan anak kos misalnya, pernahkah mengalami hal misal kehabisan uang saku,  kalau anda yakin bersama kesulitan ada kemudahan, pasti disitu juga ada jalan keluar, silakan diutarakan sendiri pengalaman masing- masing. Pernahkah seekor burung misalnya menyimpan makanan karena takut esoknya akan makan apa, mereka tidak pernah berlaku seperti itu. Burung keluar mencari makan di bagi hari dan kembali lagi ke sarang di waktu senja, paginya begitu lagi, begitulah setiap hari. Apa kesimpulanya, semua sudah ada jatahnya masing masing, burung pemakan biji jagung ya hanya akan memakan biji jagung, burung pemakan buah ya akan memakan buah, dan setiap hari tidak akan pernah tidak mendapatkan makan. Begitulah simpelnya, begitu pula jodoh. Di sinilah peran selalu bersyukur kepada-Nya, lihat, cermati, selami dari berbagai segi.

Kalau kita mampu berlaku demikian maka tidak ada yang namanya beban, tidak ada yang namanya risau atau entah apa lagi kata yang lainnya, sekali lagi kata kuncinya adalah dipandang atau diambil dari banyak sisi maka yang kita dapat adalah keindahan. Rencana Tuhan itu selalu lebih indah kawan…..

umbz ini dulu aja yang aku jabarkan saat ini lain kali disambung lagi…