apa kabar diri

mirror

Teringat akan sekelompok jin yang mendengarkan quran, saat itu Nabi Muhammad SAW sedang membaca suarah Ar Rohman, saat di ayat

Maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kau dustakan?” selalu mereka  serentak menjawab Tidak ada sedikit pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian”.

Sudahkah diri ini selalu  ingat dan mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan Tuhan? Sesungguhnya telah banyak sekali nikmat-Nya yang telah diberikan pada diri ini. Namun, betapa lemahnya diri ini untuk tidak selalu bisa “bersyukur”, diri yang hina dina ini, dzolim, Astaqfirrullah hal adzim….

Pertama dan yang selalu harus diiingat-ingat (kok seriusss tenan koyone…), bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa terpenuhi, namun alangkah indahnya semua kebutuhan kita selalu dicukupi oleh Allah SWT. Lantas masih adakah yang namanya sedih, gundah, gulana, galau, nestapa atau entah apapun engkau mau menyebutnya kawan? Jika jawabanya masih, berarti kita harus bisa belajar melihat dari semua sisi apa yang telah kita dapatkan dan apa yang telah kita alami selama ini. Apakah kita bisa menemukan cinta-Nya di semua itu?

Maka sebenarnya tiada yang namanya sedih kalau kita bisa selalu “bersyukur”. Terus kenapo dikasih tanda kutip, karena arti syukur itu luas  tidak hanya sekedar diucapkan dengan lisan. Kita akan menemukanya jika kita mampu melihat dan menemukan keindahan akan cinta-Nya disetiap sisi kehidupan kita ini kawan, so silakan teman teman menemukan sendiri.

Semua telah diatur sedemikian rapinya oleh Allah sehingga kita tinggal menjalaninya, sebentar…, “menjalaninya….?” Apakah tepat kata ini…, ahhh…betapa sungguh bodohnya diri ini.“diper-temu-kan…” adalah kata yang lebih tepat sehingga tiada yang namanya kebetulan, seperti yang sudah pernah diceritakan sebelumnya kawan. Semuanya sudah tertulis bahwa kelak saya akan belajar di tempat belajar ini, bertemu dengan ini, itu dan lain sebagainya. Ya…di situlah saya menemukan letak keindahan dan cinta itu kawan. Allah selalu mengirimkan malaikat- malaikat kecil-Nya yang selalu menemani diri ini, menyemangati, menyapa, memberikan senyuman hangatnya dan masih banyak lagi yang tiada bisa aku tuliskan dengan kata- kata.  Malaikat itu menjelma sebagai seorang lelaki, perempuan, dan anak-anak, menyalurkan segala kenikmatan dari Allah kepada diri ini, membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi, dan selalu ada disetiap saat. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦

Dari sinilah diri ini memulai belajar untuk mengerti bagaimana sebenarnya bisa bersyukur, bisa mengerti ”hidup”, bagaimana sebenarnya “kehidupan”, apa sebenarnya arti “mati”, belajar mengenal diri, belajar mempergunakan “akal” yang telah dianugerahkan kepada “manusia”, tidak kepada para malaikat, jin, tanaman dan tidak juga kepada hewan. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦 Wahai diriiiiii………..? Lantas sudahkah diri ini layak disebut “manusia”, sungguh masih jauh sebenarnya diri ini dari kata itu,  masih saja selalu dan selalu diri ini diperbudak oleh “nafsu”. Namun, apakah tidak boleh nafsu itu ada? Tidak, karena nafsu-lah sebenarnya diri ini mengenal hidup, “mengetahui” manusia, dan mencoba untu selalu meniti jalan untuk bisa kembali kepada-Nya, dan jalan yang di-Ridhoi-Nya, selalu ingat bahwa tiada daya dan tiada upaya pada diri ini sesungguhnya selain dari Kasih dan Sayang-Nya.

Alhamdulillah… diri ini selalu dibimbing dan dipertemukan dengan ”guru” yang benar-benar pantas untuk digugu lan ditiru, (dianut dan dicontoh) dalam atmosfer yang membuat orang mudah “tergoyahkan” seperti sekarang ini, panas lembab, kusam dan gelap. Ya mungkin terlihat terang, namun apakah benar demikian sejatinya, terlalu terang muncul gelap kawan.  Berusaha untuk memegang teguh tidak mudah iru-iru, anut grubyuk tanpa mengerti bagaimana sebenarnya dasarnya. Dahulu saat lulus dari SMA seorang guru memberi wejangan agar jangan mudah untuk terpengaruh dan ikut-ikutan apa yang banyak orang ramai-ramai ikuti, selalu pegang teguh apa yang selama ini diyakini, dan usahakan untuk bisa mendapatkan seseorang yang layak untuk dianut dan ditiru.

Setelah memasuki atmosfer perkuliahan, ya baru aku ketahui apa yang dulu dimaksud dan diwajangkan itu. Alhamdulillah, diri ini selalu dibimbing dan dipertemukan dengan “guru- guru” yang lainnya. Ya seperti yang sudah pernah kusebut dan kutuliskan sebelumnya, semua tiada yang namanya kebetulan, bukan pertemuan tatapi dipertemukan. Lantas dengan demikian apakah diri ini sudah mendekati atau sedikit nyrempet apa ntu yang disebut “manusia”. Belum…..belum….belum kawan, diri ini masih jauh, ya terkadang mendekati namun belum bisa “segaris”, … embzz “asimtot?” ya mungkin istilah ini lebih cocok digunakan, kenapa….? Ya karena belum bisa mengolah ”rasa”  mempergunakannya dengan baik. Masih saja terbuai, lena, dan akhirnya mengikuti nafsu….nafsu….dan nafsu….. lagi. Tapi, sekali lagi saya tekankan kawan, bukan lantas nafsu itu selalu buruk ya, okay….!!! so jangan sampai salah tafsir yakkk.

Kembali lagi ke atas yak….,”semua itu indah jika kita mampu melihatnya tidak hanya dari satu sisi”, Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. :- Masih ingatkan kawan kata-kata itu, yang tidak tahu ntah dari mana dan dibawa oleh angin apa tetiba bangun dari tidur kata-kata itu ter-ngiang di telinga ini. Okay kembali ke topik kawan, topik….? Emang dari tadi ada tema nya tulisan ini….haha tulisan kacau begini juga, usah-lah engkau pikirkan, cukup di resap-i saja hahahahaha.

Alhamdulillah, diberi “ilmu” dan dikasih tahu apa itu sebenarnya “rasa”,  dan apa itu sebenarnya “nafsu”. Rasa ialah kemampuan untuk memperdayakan akal sehingga mampu membedakan mana yang “baik” dan mana yang “buruk”, mana yang “benar” dan mana yang “salah” oke sementara meminjam dua istilah kata itu dulu ya…., maafkan, kalau teman-teman sudah mengetahui dan mungkin ada idea mengganti kata yang lebih tepat silakan memberi masukan. Rasa itu ternyata setelah diselidiki jauh jauh dan jauh (yang pasti bukan saya yang menyelidiki, tetapi para alim) sumbernya dari cahaya, “nur” dan disinilah letak sejatinya yang disebut”manungso”, manungso yang ada di dalam akal, dan siapakah yang diciptakan Allah dari cahaya? Pertanyaan retoris ini mahhh…….

Okay, lantas apa itu”nafsu?” nafsu itu konon ditempatkan di dalam hati kawan. Setelah melalui tahap penyelidikan- penyelidikan (waw udah kayak detective conan yakkk), sejatinya sumbernya berasal dari api, disini-lah point tentang “nafsu”. Tapi,,,,,, ntar dulu kawan jangan langsung ditelan yak, (ya setidaknya dikunyah-kunyah dulu, dikecap bagaimana rasanya). So…, ga salah ya kalau ada orang dulu menyebut menungso itu ya “menus-menus isine dosa” (manungso disini konteksnya ya yang didalam hati). Yups…,mungkin lebih jauh lagi teman teman bisa mengkaitkan sendiri tentang semua yang “buruk” itu akan menimbulkan apa, ya “panas”, serasa membakar. Anyway, sekarang ini kita didominasi api atau cahaya kawan….? kalau diri ini masih hangus terbakar oleh lahapan api, namun anehnya kok ya rasanya adem adem saja…., Astagfirullah hal adzim….Yukkk merenung, bercermin dan ber-muhasabah lagi, sudahlah ga usa  menjelek- jelekan orang lain, ga usah menghina orang lain, kita liat diri ini saja…., segede gajah dan telah melilipi mata ini masak ga terasa toh, Okay….(ahhh sokkk bijak kamu leee….) haha..bukan begitu maksudnya, pan mengajak ke kebaikan itu lebih baik toh?

Lhahhh njukkk sekarang apo hubunganya antara “manungso” dan “nafsu” dengan “bersyukur”. Lhah yo pan wis jelas to leee, Allah akan menambah nikmatnya jika kita selalu bersyukur, namun jika kita khianat sesungguhnya azab-Nya sangat pedih. Gamblang sekali….,Okay…, sedikit lagi ilmu yang telah didapat, Allah kan “As Syakur” Maha Bersyukur, nah no bingung too, mumet? Ndodok yo ben ra bingung. Allah itu Maha Bersyukur, terus kita apa, sekecil dan sehina ini tidak bersyukur? , betapa bodohnya wahai diri. Ya tidak lain tidak bukan artinya pan kalau kita itu “bersyukur” semuanya akan dikembalikan lagi sebenarnya ke kita, logikanya pan gitu…(ni kalau orang bertanya segi “ilmiah” nya lhooo ya), namun sebenarnya sebagai seorang yang ber-iman, ilmiah ki urung opo opo pan…? Retoris manehhh… ealah. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦

Kalau akal kita lebih dominan daripada nafsu, pastinya kita akan selalu bersyukur, selalu bisa menemukan Allah disetiap yang kita temui, entah itu di daun yang berguguran, entah itu di saat turun hujan, entah,….entah…dan entah…dimanapun. Bahkan, tidak jauh-jauh kan, temukan Allah dalam dirimu…!!! Lhah ni yang harus kita mengerti dan pahami lagi, menyelam lebih dalam ya kawan, pastinya tekanan-nya semakin lebih besar, tapi akan kita temukan ntu Mutiara di kedalaman sana, yakinlah. Beliau sang “guru” selalu mengingatkan, bahwa merenung dan memikirkan ciptaan-Nya itu jauh lebih dahsyat efeknya daripada kita hanya sekedar”membaca”quran dan tanpa pernah memikirkanya, (njukkkk aja salah makna lagi disini ntar njukkk salah paham, berarti ga usa moco Quran, ora ngono artine Dabzzz!!!), orang-orang sekarang mungkin langsung men-judge “kalau mau belajar mentafsirkan quran itu ya kepada ahli tafsir, kita tidak boleh sembarangan”……., Emzzzzzz, bukan berarti sembarangan menafsirkan, pan sekarang kita bisa membaca penafsiran- penafsiran para ahli tafsir di kitab kitab quran terjemahan, lantas tak bolehkah kita memikirkan lebih dalam dan lebih mendalam lagi……? kapan kita mau menggunakan akal kita kalau hanya melahap apa yang ditafsirkan oleh para ahli tafsir….. (ya mungkin ini juga ya yang menyebabkan banyak orang sekarang fanatik buta, (in my hypothesis)). Penafsiran itu kan yo sebenarnya cuman mengira ira artinya seperti ini seperti ini, begini begini dan seterusnya….lantas iyakah seperti itu yang dimaksud oleh Allah…., ayolah kawannnn please, don’t be crazzy, don’t be stuck on it!!!! marilah kita gunakan akal kita ini untuk memikirkan lagi lagi dan lagi (pesan Sang Guru)…………..

Masih ingatkan ya, check lagi dah tanya eyang google, hanya seberapa persen kita pergunakan akal kita sekarang ini? Einsten yang cerdas saja mempergunakan akalnya less than 15%, kita….? how about us???? 0.5, 1, 2% sampai-kah….. ? i don’t think so.

Sudah jelas dan yakin tah kalau ayat- ayat Allah itu tersebar diseluruh alam semesta? kalau dari diri ini sendiri, ya….! 1000 % dah yakin. Lalu Kenapa, harus ditanya kenapa….., masih bertanya kenapa lagi…..?  Terus ensiklopedia-nya pan sudah jelas,baru ”kunci-kunci” nya, ada di dalam Al-Quran, itu saja kalau kita mau mengambilnya, caranya???  Lhah njuk sekarang diri ini sudah mengerti quran….? Awam jo…awam….awam…., makane kui yo ayo mentadabbur-i quran…!!! mari kita coba gunakan akal kita.

Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦 sungguh lemahnya diri ini _cry-128

 

 

 

~300516/AS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s