Gugatmu


angel_wings_vector_533048

Kau tarik diriku dalam pelukmu

Kau timang daku dengan kasihmu

Tutur kata cintamu menjelma dalam tubuhku

Mengalir dari setiap detak jantungku

 

Namun diriku belum bisa menyatu

Menyatu dalam frekuensimu

Berputar dalam sistem indahmu

Diri ter-eksistasi semakin

dan semakin jauh terpelanting

Mengelana dalam dunia imajinasi

Betapa sungguh rapuhnya diri ini

 

Wahai malam ketika kau datang

Menyalurkan energi kasih sayang

Memaparkan sejatinya rasa

Bersamanya kau ajak bidadari surga

Membuat ku terpukau kala itu

Terkulai oleh indah romansanya

 

Wahai pasukan penjaga langkah

Wahai raja pemberi perintah

Sudahkah engkau membudidaya

Akankah kau biarkan ia pudar

 

Wahai mentari yang selalu iringi langkah ini

Rangkul daku dikala ku tak berdaya

Dorong daku dikala terhenti

Seperti pelangi pagi ini

Saat kau menggugatku

melalui pesan sang bidadari

dan akupun ingin memahami

Dan aku mencoba kembali

kembali dan lagi……..

Maka maafkan diri ini

 

~SA/16/10/27

 

 

 

 

 

 

 

Liku Laku


IMG_20151030_162048.jpg

Kau panggil dia dengan lantang

Namun kau usir dia dengan tenang

Kau susun bangunanya

Kau ambil pula satu persatu batu sokonya

Penghancuran belum sempurna

Ataukah sempurna salah penghancuran

Oh ajari aku…..

Lewat mimpi mimpi

Kau hadir dengan senyum

Namun belum bisa ku mengartikanya

Ku ingin memulai kembali

Memasuki lingkaranmu

Kembali menggali janjiku

Sinau


Manusia belum tentu konstan berlaku sebagai manusia, bisa juga pada momentum tertentu, pada kondisi psikologis tertentu, pada kondisi sosial tertentu, pada peristiwa tertentu berlaku sebagai monster, kanibal, hewan, setan atau iblis.

 

~Kitab Ketentraman (EAN)

Tiada kutemukan jejakmu


mencoba bertanya kemana dan dimana

siapakah yang melihatnya

adakah yang pernah disapa olehnya

adakah yang secara tidak sengaja berpapasan denganya

mencoba mencari namun belum jua kutemui

tanah kering, kerikil dan debu

namun tiada kulihat jua jejakmu

wahai tanah apakah engkau marah

wahai kerikil apakah tak terpanggil

wahai debu akan selalukah engkau membisu

wahai angin akankah engkau membawa kabarnya

wahai air akankah engkau selalu hadir

memberikan tanda ia berada

tidak semua tetap adanya

seperti sedia kala

dan tiada kutemui setitik pun tandanya

telah lenyapkah engkau jejak

atau sudah nan jauh kah diri ini tertinggal

atau sudah nan jauh kah diri ini berbeda arah

sudah menjauh kah dari mu

kehilangan akan jejakmu…..

 

 

~AS/16/05/06

 

 

 

 

 

 

apa kabar diri


mirror

Teringat akan sekelompok jin yang mendengarkan quran, saat itu Nabi Muhammad SAW sedang membaca suarah Ar Rohman, saat di ayat

Maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kau dustakan?” selalu mereka  serentak menjawab Tidak ada sedikit pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian”.

Sudahkah diri ini selalu  ingat dan mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan Tuhan? Sesungguhnya telah banyak sekali nikmat-Nya yang telah diberikan pada diri ini. Namun, betapa lemahnya diri ini untuk tidak selalu bisa “bersyukur”, diri yang hina dina ini, dzolim, Astaqfirrullah hal adzim….

Pertama dan yang selalu harus diiingat-ingat (kok seriusss tenan koyone…), bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa terpenuhi, namun alangkah indahnya semua kebutuhan kita selalu dicukupi oleh Allah SWT. Lantas masih adakah yang namanya sedih, gundah, gulana, galau, nestapa atau entah apapun engkau mau menyebutnya kawan? Jika jawabanya masih, berarti kita harus bisa belajar melihat dari semua sisi apa yang telah kita dapatkan dan apa yang telah kita alami selama ini. Apakah kita bisa menemukan cinta-Nya di semua itu?

Maka sebenarnya tiada yang namanya sedih kalau kita bisa selalu “bersyukur”. Terus kenapo dikasih tanda kutip, karena arti syukur itu luas  tidak hanya sekedar diucapkan dengan lisan. Kita akan menemukanya jika kita mampu melihat dan menemukan keindahan akan cinta-Nya disetiap sisi kehidupan kita ini kawan, so silakan teman teman menemukan sendiri.

Semua telah diatur sedemikian rapinya oleh Allah sehingga kita tinggal menjalaninya, sebentar…, “menjalaninya….?” Apakah tepat kata ini…, ahhh…betapa sungguh bodohnya diri ini.“diper-temu-kan…” adalah kata yang lebih tepat sehingga tiada yang namanya kebetulan, seperti yang sudah pernah diceritakan sebelumnya kawan. Semuanya sudah tertulis bahwa kelak saya akan belajar di tempat belajar ini, bertemu dengan ini, itu dan lain sebagainya. Ya…di situlah saya menemukan letak keindahan dan cinta itu kawan. Allah selalu mengirimkan malaikat- malaikat kecil-Nya yang selalu menemani diri ini, menyemangati, menyapa, memberikan senyuman hangatnya dan masih banyak lagi yang tiada bisa aku tuliskan dengan kata- kata.  Malaikat itu menjelma sebagai seorang lelaki, perempuan, dan anak-anak, menyalurkan segala kenikmatan dari Allah kepada diri ini, membantu menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi, dan selalu ada disetiap saat. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦

Dari sinilah diri ini memulai belajar untuk mengerti bagaimana sebenarnya bisa bersyukur, bisa mengerti ”hidup”, bagaimana sebenarnya “kehidupan”, apa sebenarnya arti “mati”, belajar mengenal diri, belajar mempergunakan “akal” yang telah dianugerahkan kepada “manusia”, tidak kepada para malaikat, jin, tanaman dan tidak juga kepada hewan. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦 Wahai diriiiiii………..? Lantas sudahkah diri ini layak disebut “manusia”, sungguh masih jauh sebenarnya diri ini dari kata itu,  masih saja selalu dan selalu diri ini diperbudak oleh “nafsu”. Namun, apakah tidak boleh nafsu itu ada? Tidak, karena nafsu-lah sebenarnya diri ini mengenal hidup, “mengetahui” manusia, dan mencoba untu selalu meniti jalan untuk bisa kembali kepada-Nya, dan jalan yang di-Ridhoi-Nya, selalu ingat bahwa tiada daya dan tiada upaya pada diri ini sesungguhnya selain dari Kasih dan Sayang-Nya.

Alhamdulillah… diri ini selalu dibimbing dan dipertemukan dengan ”guru” yang benar-benar pantas untuk digugu lan ditiru, (dianut dan dicontoh) dalam atmosfer yang membuat orang mudah “tergoyahkan” seperti sekarang ini, panas lembab, kusam dan gelap. Ya mungkin terlihat terang, namun apakah benar demikian sejatinya, terlalu terang muncul gelap kawan.  Berusaha untuk memegang teguh tidak mudah iru-iru, anut grubyuk tanpa mengerti bagaimana sebenarnya dasarnya. Dahulu saat lulus dari SMA seorang guru memberi wejangan agar jangan mudah untuk terpengaruh dan ikut-ikutan apa yang banyak orang ramai-ramai ikuti, selalu pegang teguh apa yang selama ini diyakini, dan usahakan untuk bisa mendapatkan seseorang yang layak untuk dianut dan ditiru.

Setelah memasuki atmosfer perkuliahan, ya baru aku ketahui apa yang dulu dimaksud dan diwajangkan itu. Alhamdulillah, diri ini selalu dibimbing dan dipertemukan dengan “guru- guru” yang lainnya. Ya seperti yang sudah pernah kusebut dan kutuliskan sebelumnya, semua tiada yang namanya kebetulan, bukan pertemuan tatapi dipertemukan. Lantas dengan demikian apakah diri ini sudah mendekati atau sedikit nyrempet apa ntu yang disebut “manusia”. Belum…..belum….belum kawan, diri ini masih jauh, ya terkadang mendekati namun belum bisa “segaris”, … embzz “asimtot?” ya mungkin istilah ini lebih cocok digunakan, kenapa….? Ya karena belum bisa mengolah ”rasa”  mempergunakannya dengan baik. Masih saja terbuai, lena, dan akhirnya mengikuti nafsu….nafsu….dan nafsu….. lagi. Tapi, sekali lagi saya tekankan kawan, bukan lantas nafsu itu selalu buruk ya, okay….!!! so jangan sampai salah tafsir yakkk.

Kembali lagi ke atas yak….,”semua itu indah jika kita mampu melihatnya tidak hanya dari satu sisi”, Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. :- Masih ingatkan kawan kata-kata itu, yang tidak tahu ntah dari mana dan dibawa oleh angin apa tetiba bangun dari tidur kata-kata itu ter-ngiang di telinga ini. Okay kembali ke topik kawan, topik….? Emang dari tadi ada tema nya tulisan ini….haha tulisan kacau begini juga, usah-lah engkau pikirkan, cukup di resap-i saja hahahahaha.

Alhamdulillah, diberi “ilmu” dan dikasih tahu apa itu sebenarnya “rasa”,  dan apa itu sebenarnya “nafsu”. Rasa ialah kemampuan untuk memperdayakan akal sehingga mampu membedakan mana yang “baik” dan mana yang “buruk”, mana yang “benar” dan mana yang “salah” oke sementara meminjam dua istilah kata itu dulu ya…., maafkan, kalau teman-teman sudah mengetahui dan mungkin ada idea mengganti kata yang lebih tepat silakan memberi masukan. Rasa itu ternyata setelah diselidiki jauh jauh dan jauh (yang pasti bukan saya yang menyelidiki, tetapi para alim) sumbernya dari cahaya, “nur” dan disinilah letak sejatinya yang disebut”manungso”, manungso yang ada di dalam akal, dan siapakah yang diciptakan Allah dari cahaya? Pertanyaan retoris ini mahhh…….

Okay, lantas apa itu”nafsu?” nafsu itu konon ditempatkan di dalam hati kawan. Setelah melalui tahap penyelidikan- penyelidikan (waw udah kayak detective conan yakkk), sejatinya sumbernya berasal dari api, disini-lah point tentang “nafsu”. Tapi,,,,,, ntar dulu kawan jangan langsung ditelan yak, (ya setidaknya dikunyah-kunyah dulu, dikecap bagaimana rasanya). So…, ga salah ya kalau ada orang dulu menyebut menungso itu ya “menus-menus isine dosa” (manungso disini konteksnya ya yang didalam hati). Yups…,mungkin lebih jauh lagi teman teman bisa mengkaitkan sendiri tentang semua yang “buruk” itu akan menimbulkan apa, ya “panas”, serasa membakar. Anyway, sekarang ini kita didominasi api atau cahaya kawan….? kalau diri ini masih hangus terbakar oleh lahapan api, namun anehnya kok ya rasanya adem adem saja…., Astagfirullah hal adzim….Yukkk merenung, bercermin dan ber-muhasabah lagi, sudahlah ga usa  menjelek- jelekan orang lain, ga usah menghina orang lain, kita liat diri ini saja…., segede gajah dan telah melilipi mata ini masak ga terasa toh, Okay….(ahhh sokkk bijak kamu leee….) haha..bukan begitu maksudnya, pan mengajak ke kebaikan itu lebih baik toh?

Lhahhh njukkk sekarang apo hubunganya antara “manungso” dan “nafsu” dengan “bersyukur”. Lhah yo pan wis jelas to leee, Allah akan menambah nikmatnya jika kita selalu bersyukur, namun jika kita khianat sesungguhnya azab-Nya sangat pedih. Gamblang sekali….,Okay…, sedikit lagi ilmu yang telah didapat, Allah kan “As Syakur” Maha Bersyukur, nah no bingung too, mumet? Ndodok yo ben ra bingung. Allah itu Maha Bersyukur, terus kita apa, sekecil dan sehina ini tidak bersyukur? , betapa bodohnya wahai diri. Ya tidak lain tidak bukan artinya pan kalau kita itu “bersyukur” semuanya akan dikembalikan lagi sebenarnya ke kita, logikanya pan gitu…(ni kalau orang bertanya segi “ilmiah” nya lhooo ya), namun sebenarnya sebagai seorang yang ber-iman, ilmiah ki urung opo opo pan…? Retoris manehhh… ealah. Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦

Kalau akal kita lebih dominan daripada nafsu, pastinya kita akan selalu bersyukur, selalu bisa menemukan Allah disetiap yang kita temui, entah itu di daun yang berguguran, entah itu di saat turun hujan, entah,….entah…dan entah…dimanapun. Bahkan, tidak jauh-jauh kan, temukan Allah dalam dirimu…!!! Lhah ni yang harus kita mengerti dan pahami lagi, menyelam lebih dalam ya kawan, pastinya tekanan-nya semakin lebih besar, tapi akan kita temukan ntu Mutiara di kedalaman sana, yakinlah. Beliau sang “guru” selalu mengingatkan, bahwa merenung dan memikirkan ciptaan-Nya itu jauh lebih dahsyat efeknya daripada kita hanya sekedar”membaca”quran dan tanpa pernah memikirkanya, (njukkkk aja salah makna lagi disini ntar njukkk salah paham, berarti ga usa moco Quran, ora ngono artine Dabzzz!!!), orang-orang sekarang mungkin langsung men-judge “kalau mau belajar mentafsirkan quran itu ya kepada ahli tafsir, kita tidak boleh sembarangan”……., Emzzzzzz, bukan berarti sembarangan menafsirkan, pan sekarang kita bisa membaca penafsiran- penafsiran para ahli tafsir di kitab kitab quran terjemahan, lantas tak bolehkah kita memikirkan lebih dalam dan lebih mendalam lagi……? kapan kita mau menggunakan akal kita kalau hanya melahap apa yang ditafsirkan oleh para ahli tafsir….. (ya mungkin ini juga ya yang menyebabkan banyak orang sekarang fanatik buta, (in my hypothesis)). Penafsiran itu kan yo sebenarnya cuman mengira ira artinya seperti ini seperti ini, begini begini dan seterusnya….lantas iyakah seperti itu yang dimaksud oleh Allah…., ayolah kawannnn please, don’t be crazzy, don’t be stuck on it!!!! marilah kita gunakan akal kita ini untuk memikirkan lagi lagi dan lagi (pesan Sang Guru)…………..

Masih ingatkan ya, check lagi dah tanya eyang google, hanya seberapa persen kita pergunakan akal kita sekarang ini? Einsten yang cerdas saja mempergunakan akalnya less than 15%, kita….? how about us???? 0.5, 1, 2% sampai-kah….. ? i don’t think so.

Sudah jelas dan yakin tah kalau ayat- ayat Allah itu tersebar diseluruh alam semesta? kalau dari diri ini sendiri, ya….! 1000 % dah yakin. Lalu Kenapa, harus ditanya kenapa….., masih bertanya kenapa lagi…..?  Terus ensiklopedia-nya pan sudah jelas,baru ”kunci-kunci” nya, ada di dalam Al-Quran, itu saja kalau kita mau mengambilnya, caranya???  Lhah njuk sekarang diri ini sudah mengerti quran….? Awam jo…awam….awam…., makane kui yo ayo mentadabbur-i quran…!!! mari kita coba gunakan akal kita.

Dan sesungguhnya nikmat Allah yang manakah lagi yang telah aku dusta-kan….. 😦 sungguh lemahnya diri ini _cry-128

 

 

 

~300516/AS

kemarilah…


BEAUTIFUL-dew-drops-flowers-green-nature-1080x620

Allah berfirman” tidaklah aku berikan ilmu kepada kalian kecuali sangat sedikit”

Mari Kemari, Datang… Datanglah
Mari kemari datanglah siapapun dirimu.
Pengelana, Peragu, dan Pecinta mari..kemari datanglah
Tak penting kau percaya atau tidak..
Mari, kemari … datanglah

Kami bukanlah caravan yang patah hati …
atau pintu-pintu dari keputus asa-an,
Mari kemari datanglah…
Meski kau telah jatuh ribuan kali,
Meski kau telah patahkan ribuan janji,
Mari kemari…datang. .. datanglah sekali lagi…

Ya Allah, dengan segala rahmat Mu, wahai yang Maha Membolak balik hati, jagalah hati kami semua.
Apapun perasaaan yang ada dalam hati kami, kami terima dengan tangan dan hati terbuka, dan kuserahkan semuanya kembali kepada Mu, dan aku melihatnya pergi menguap.

Ya Allah Yang Maha Melembutkan, lembutkanlah hati dengan nama-nama indah MU. Karena kami adalah khalifah MU.

Ya Allah, hanya dengan ijin Mu, aku mengijinkan Engkau menuntun hati ku, dan hati semua umat MU.

Ya Allah, dengan ijin Mu, aku mengijinkan diriku untuk mengenali rasa apapun yang ada dan mengijinkan nya pergi. Sekarang…

Menata hati untuk ridha Mu saja. Apapun yang ada, aku terima. Hanya kepada Mu, kami berserah.

 

~JR

sejak kapan


sejak kapan protein memintal amino
sejak kapan karbohidrat menyantuni glukosa
sejak kapan lipid melunturkan air
sejak kapan hitam memproduksi silau
sejak kapan cahaya menggandeng gelap
sejak kapan diam memudarkan warna
sejak kapan awan menggiring uap
sejak kapan hujan berkelahi dengan angin
sejak kapan dingin menyalurkan kalor
sejak kapan beku dilantik panas
sejak kapan embun menyambut daun
sejak kapan tumbuhan mengenal tanah
sejak kapan foton menggandeng klorofil
sejak kapan oksigen mempersunting fotosintesis
sejak kapan asin itu manis
sejak kapan pahit itu asam
sejak kapan…. sejak kapan…..
”kaca” itu berdebu

 

~16/05/16AS