bagaimana kamu?


Dan jika Dia bercakap dengan memakai ibarat,
wahai anak-muda,
engkau akan terhijab oleh bentuk-bentuk itu.

Engkau terbenam ke bumi,
seperti rumput kau angguk-anggukkan kepala
mengikuti hembusan angin;
tanpa kepastian.

Tetapi engkau tidak mempunyai kaki
yang dapat membuatmu beranjak,
atau cobalah menarik kakimu
keluar dari lumpur itu.

Bagaimana mungkin engkau menarik kaki kamu?
Hidupmu itu dari lumpur tersebut:
luar-biasa beratnya untuk kehidupan seperti milikmu
untuk berjalan.

Tapi ketika engkau menerima kehidupan dari Tuhan,
wahai huruf-berirama, engkau menjadi mandiri dari lumpur ini,
dan akan dibangkitkan.

~JR

Advertisements

Hela


Diam sejenak
pejamkanlah matamu
tarik nafas sedalam dalamnya
dengarkan dendang nadi
hanyutlah dalam sunyi
selami angan
lalu ingatkanlah
tentang kesendirian
tentang kebersamaan
tentang keindahan
tentang kedamaian
tentang semua
kenikmatan yang kau dapatkan
ingatkah engkau
kembalilah diri
kesini disini
syukur pada Illahi

 

~AS
16/04/07

Tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit


Sebenarnya banyak yang ingin aku tulis kawan, tapi mungkin belum ada kesempatan, 
dan juga masih banyak yang harus aku temukan simpulnya, lain kali akan aku 
tuliskan lagi. Berikut sedikit cerita yang bisa kita ambil madunya yang tentunya 
tidak hanya dari satu sisi saja kita menghisapnya. 

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda berambut merah, bermata biru,
dagunya selalu menempel di dada selalu melihat tempat sujudnya, ahli membaca 
Al Quran dan menangis, pakainya hanya dua helai yang telah kusut, satu yang ia 
kenakan dan satunya ia selendangkan. Tiada orang menghiraukan, tak terkenal di 
bumi tetapi sangat terkenal di langit. Dia adalah Uwais al-Qorni, miskin banyak
orang menertawakanya, mengolok-olok dan menuduhnya sebagai tukang bujuk serta 
berbagai umpatan lainya.

Al kisah ada seorang fuqoha dari negeri Kuffah ingin duduk bersamanya dan 
memberinya dua helai pakaian sebagai ganti. Hadiah itu diterimanya 
lalu ia kembalikan seraya berkata"aku khawatir nanti ada sebagian 
orang menuduhku, darimana kamu mendapatkan pakaian itu, 
kalau tidak membujuk pasti mencuri".

Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tidak punya sanak 
famili kecuali hanya ibunya yang telah renta dan lumpuh, 
serta penglihatanya yang mulai kabur. Ia bekerja sebagai penggembala 
untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.Dikatakan tidak cukup 
mungkin tidak pas, tetapi mereka selalu mensyukurinya. 
Bila ada sedikit kelebihan ia gunakan untuk membantu tetangganya 
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti mereka. 
Kesibukanya merawat ibunya dan menggembala tidak lantas menghalanginya 
lupa untuk beribadah, ia tetap melakukan puasa di siang hari
dan bermunajat di malam harinya. 

Uwais al-Qorni telah memeluk islam pada masa Yaman mendengar 
seruan Nabi Muhammad SAW untuk menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa, 
yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar 
berahklak luhur. Banyak tetangganya yang mampu pergi langsung ke Madinah 
untuk mendengarkan ajaran beliau. Alangkah sedihnya Uwais melihat 
tetangganya yang  baru datang dari Madinah yang telah "bertamu dan bertemu" 
langsung dengan kekasih Allah SWT, tetapi apalah daya ia tidak punya bekal 
yang cukup, selain itu yang paling ia beratkan adalah bagaimana 
sang ibu apabila ia pergi tak ada yang merawatnya.

Menit berganti hari dan bulan telah berganti tahun, sementara kerinduanya 
untuk bertemu Rasulullah SAW semakin tidak terbendung. Setiap saat ia 
merenungdan dan bertanya dalam hati kapan dia bisa menatap wajah beliau 
dari dekat? namun ia juga tidak tega meninggalkan ibunya yang sangat 
membutuhkanya. Suatu saat ia memberanikan diri mengutarakan keinginanya 
kepada ibunya, dan memohon izin agar diperkenankan ke Madinah 
menemui baginda Rasulallah SAW. Ibunya terharu 
mendengar permohonan anaknya,dan berkata"pergilah kau anaku! 
temuilah Nabi di rumahnya, dan apabila telah berjumpa segeralah 
engkau pulang". Dengam rasa gembira ia segera berkemas 
dan menyiapkan semua keperluan ibunya, serta berpesan pada tetangganya 
agar dapat menemani ibunya selama dia pergi. Setelah berpamitan dan mencium 
tangan ibunya,berangkatlah ia menuju Madinah.

Singkat cerita, sesampainya di Madinah dan menuju rumah Baginda 
Rasulallah SAW, segera ia mengucapkan salam. Namun saat itu 
Nabi SAW sedang tidak di rumah, beliau sedang pergi berperang, 
sehingga ia hanya bertemu sayyidatina Aisyah r.a. Dalam hatinya 
bergejolak untuk menunggu Baginda Nabi SAW 
kembali, tetapi ia tidak tahu,ia juga ingat akan pesan ibunya 
untuk segera pulang, ia pun kemudian menitipkan salamnya untuk 
Nabi Muhammad SAW dan bergegas pulang dengan perasaan haru.

Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan 
orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni 
adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit 
(sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, 
sayyidatina 'Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi 
sayyidatina 'Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan 
segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan 
sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. 
RosulullahSAW bersabda : "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia 
(Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah 
telapak tangannya." Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali 
dan sayyidina Umar r.a. danbersabda : "Suatu ketika, apabila kalian bertemu
dengan dia, mintalah do'a dan istighfarnya, diaadalah penghuni langit 
dan bukan penghuni bumi".

Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan 
sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. 
Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. 
tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan 
kepada sayyidina Ali untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah 
yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang 
Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah 
itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai 
ia dicari oleh beliau berdua. 
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang 
dagangan mereka.

Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju 
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, 
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka 
dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu 
mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga 
unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, 
beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya 
di kemah tempat Uwais berada,Khalifah Umar r.a. dan sayyidina 
Ali memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. 
Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua 
tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah 
Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran 
tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah 
disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar! Dia penghuni langit. 
Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara? 
"Abdullah", jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua 
sahabatpun tertawa dan mengatakan:"Kami juga Abdullah, 
yakni hamba Allah. 
Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?" Uwais kemudian berkata: 
"Nama saya Uwais al-Qorni". Dalam pembicaraan mereka, 
diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, 
ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. 
Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali memohon agar Uwais berkenan 
mendo'akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada 
khalifah:"Sayalah yang harus meminta do'a kepada kalian". Mendengar 
perkataan Uwais, Khalifah berkata: "Kami datang ke sini untuk
mohon do'a dan istighfar dari anda". Karena desakan kedua sahabat ini, 
Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo'a dan 
membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji 
untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, 
untuk jaminan hidupnya.Segera saja Uwais menolak dengan halus 
dengan berkata:
"Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk 
hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini 
tidak diketahui orang lagi".

Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar 
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong 
oleh Uwais, waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju 
tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin 
topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak 
menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal 
dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami 
melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok 
kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar 
dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya 
kami melihat kejadian itu. "Wahai waliyullah,"Tolonglah kami!" 
tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,
"Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!"
Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: "Apa yang terjadi?" 
"Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak?"
tanya kami. "Dekatkanlah diri kalian pada Allah! "katanya. "Kami telah 
melakukannya." 
"Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!" 
Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. 
Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami 
semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam 
ke dasar laut. Lalu orang itu berkata padakami,"Tak apalah harta 
kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat". 
"DemiAllah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan? 
"Tanya kami. "Uwais al-Qorni" Jawabnya dengan singkat. Kemudian 
kami berkata lagi kepadanya, "Sesungguhnya hartayang ada di kapal 
tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim 
oleh orang Mesir." "Jika Allah mengembalikan harta kalian. 
Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir 
di Madinah?" tanyanya.
"Ya,"jawab kami.Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di 
atas air, lalu berdo'a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, 
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami 
menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, 
kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang 
fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni 
telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan 
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. 
Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana 
sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian 
pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana 
ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. 
Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang 
yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah bin Salamah 
menjelaskan, "ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku 
pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk 
kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, 
akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah 
bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama 
Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. 
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang 
yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, 
padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia 
dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, 
di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih 
dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya: 
"Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni? Bukankah Uwais yang 
kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, 
yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, 
ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman 
dengan hadirnya manusia-manusiaasing yang tidak pernah kami kenal. 
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka 
adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk 
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman 
mengetahuinya siapa "Uwais al-Qorni" ternyata ia tak terkenal di bumi 
tapi terkenal di langit.

~ Beberapa poin yang menurutku patut untuk dijadikan bahan renungan dan 
dijadikansebagai panutan:
1. Uwais al Qorni adalah seorang yang sederhana, miskin tetapi juga 
    berusaha membantu sesama yang juga tidak mampu
2. Taat pada Ibunya dan tidak menyia-nyiakan ibunnya saat renta
3. Rajin puasa dan sholat malam nya terjaga
4. Tiada disilaukan akan kemegahan harta
5. Selalu rendah hati

semoga sobat bisa mengambil banyak hikmah yang lainya.

The Roles of Fasting does’t mean stopping your Appetites only


longo-article-responsive01

What if the key to maintaining a vibrant immune system was simply not eating for a few days at a time twice a year? Researchers from the University of Southern California in Los Angeles say that periodic, prolonged fasting — that is, not eating for between two and four subsequent days at a time — not only protects against immune system damage, but it also promotes immune system regeneration, particularly in patients who are already immuno-compromised.

Getting caloric restriction right and practicing it over the long term can present a challenge. How much is enough, how much is too much, for whom and under what conditions? Should total calories be restricted, total carbohydrates, fats, protein, which aspects of protein, and so on? Clearly, a workable alternative to caloric restriction is needed, albeit even without practicing such restrictions it always is an option to reduce consumption of sugars and refined carbohydrates. Fortunately, yet another age-old practice, fasting, apparently can be employed to deliver at least some of the benefits of caloric restriction. Significantly, the proposed mechanism of action is…a reduction in IGF-1, just as in caloric restriction!

In fact, fasting in 2014 received very important scientific backing as a means to improve some key factors that typically decline with age. The headline on June 5, 2014 at ScienceDaily ran, “Fasting triggers stem cell regeneration of damaged, old immune system.” On June 6, Medical News Today headlined, “Prolonged fasting ‘re-boots’ immune system.” Similar headlines were still appearing in December. Clearly, this research is considered to be important.

 

Sources:

http://www.naturalnews.com/049794_stem_cells_fasting_immune_system.html

http://www.totalhealthmagazine.com/Anti-Aging/Caloric-Restriction-Fasting-and-Nicotinamide-Riboside.html

http://europepmc.org/articles/PMC4102383

http://www.alzdiscovery.org/cognitive-vitality/article/a-little-fasting-may-go-a-long-way

https://review.ifom.eu/2014/guaragnella-longo.php

https://benjaminhardy.com/the-number-one-secret-to-superhuman-willpower/

 

 

Harmoni Ekologi


Burung burung berenang
Melayang di balik awan
Selaraskan udara yang berlari
Sejenak menyapa sang ranting
Berkicau memanggil sunyinya air danau

Langit tiada ingin kalah
Sedikit mengerutkan wajahnya
Membuat sang awan menjatuhkan bebanya
Denting air menari dengan anggunya
Menggugah sang katak yang terlelap
dan harmoni alampun mulai dinyanikan

Angin hadir diwaktu yang tepat
Mengajak dedaunan berbalet
Skuadron koi menghiasi langitnya
dan pestapun berlangsung bersahaja

~AS/160125

Ngguyu sik lah


Ahhh…entahlah ketawa dulu (smile)

Apa yang ada dalam pikiranmu

Kau bilang bisa membuatmu melayang

Kau bilang tidak bisa tidur karenanya

Kau bilang bisa menangis karenanya

Kau bilang nyaman disampingnya

Senang akan hadirnya

Selalu menantikan senyumanya

(Ahh…lagunya Letto ni)

Selalu menanti sapanya

(Lhah kenapa harus disapa)

Berada didekatnya

Mengalahkan alkohol mabuknya

Ahh…apa iya..

Ahh…ku tak setuju

Sudahlah….belum aku mengerti

Itukah yang kausebut….

(Terserah kau menyebut)

Aku tak tahu kata itu

(Belum pernah bertemu)

Ya mungkin suatu kala bertemu

Berjabat tangan saja belum pernah

Lhah bagaimana aku bisa kenal

(Kenalan donk ah..gimana sih)

Ahh…mungkin lain waktu

Buat apa kau menangis

Terlalu berharga lisozim air matamu

Sayang bakteri berharga dimatamu

Buat apa kau bersedih

Keindahan selalu hadir disampingmu

(Jika kau mampu melihat)

Buat apa kau berkhayal

Lha wong sudah jelas wujudnya didepanmu

Ya….mungkin aku sedang bermimpi

Dan sekarang berada di dunia nyata

Ahh…apakah jiwa dan pikiranmu tertinggal disana

Terlalu banyak kata tiada kunjung dapat kalimat

Terlalu banyak supplay tiada kau dapat energi

Terlalu banyak makan gemuklah engkau

Hahaha kok serius amat bacanya

Jangankan harum semerbak

Primirdiapun tiada pernah keluar

Ahh….sudahlah kurang pupuknya siii…

Bagaimana kau tahu kurang pupuk

Lha wong media tanamnya aja tak ada

Hahahaha ada ada saja lho kamu ini

~AS/5/16/1